Showing posts with label Teknologi Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Pertanian. Show all posts

Saturday, July 22, 2017

Tiga Varietas Baru Padi Gogo Hasil Konsorsium

View Article
POTRET PERTANIAN - Perluasan areal tanam padi di lahan kering saat ini menjadi tumpuan besar pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional. Upaya Pemerintah dalam mendorong perluasan tanam padi di lahan kering ini tentunya perlu didukung dengan tersedianya teknologi budidaya yang prima.

Komponen teknologi utama dalam usaha produksi padi gogo adalah varietas unggul yang adaptif terhadap berbagai permasalahan di lahan kering seperti kekeringan, kemasaman tanah dan penyakit blas. Sehingga, ketersediaan varietas unggul ini menjadi salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi padi gogo nasional.

Sejumlah lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia memberikan perhatian serius dalam program perakitan varietas padi gogo. Untuk mensinergikan penelitian padi gogo lintas lembaga penelitian, pada tahun 2008 Badan Litbang Pertanian membentuk Konsorsium Penelitian Padi Nasional.

Salah satu kegiatan konsorsium adalah melakukan pengujian bersama galur-galur harapan di berbagai daerah. Sejumlah varietas unggul telah berhasil dilepas sejak konsorsium padi nasional dibentuk.

Pada tahun 2017 Konsorsium Padi Nasional kembali berhasil melepas varietas unggul baru (VUB) berupa tiga VUB padi gogo yaitu INPAGO 12 AGRITAN, IPB 9G dan UNSOED PARIMAS. Ketiga varietas tersebut telah melalui pengujian di delapan lokasi lahan kering yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dibawah Badan Litbang Pertanian, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jenderal Soedirman.

Varietas INPAGO 12 AGRITAN merupakan padi gogo hasil pemuliaan Badan Litbang Pertanian, memiliki potensi hasil yang tinggi yakni sebesar 10.2 ton/ha, rata-rata hasil 6.7 ton/ha, agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al yang menjadi masalah di lahan kering masam, dan tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, serta memiliki tekstur nasi yang agak pulen.

Varietas IPB 9G merupakan padi gogo yang dikembangkan oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor bersama tim dari Institut Pertanian Bogor. Varietas tersebut memiliki potensi hasil 9.09 ton/ha, dan rata-rata hasil 6.09 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan memiliki tekstur nasi pulen.

Varietas UNSOED PARIMAS merupakan padi gogo yang dihasilkan oleh Prof. Suwarto dan tim dari Universitas Jenderal Soedirman, memiliki potensi hasil 9.40 ton/ha, rata-rata hasil 6.19 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan kekeringan, dan tekstur nasinya pulen.

Ketiga varietas baru tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi petani untuk meningkatkan produksi padi di lahan kering.

Kerjasama penelitian Badan Litbang dan lembaga penelitian dan universitas melalui Konsorsium Penelitian Padi Nasional akan terus berlanjut dalam menghasilkan inovasi-inovasi pertanian mendukung tercapainya swasembada beras berkelanjutan.(AH/Shr)

Tuesday, April 18, 2017

Lima Langkah Praktis Kendalikan Penyakit Hawar Daun

View Article
Potret Pertanian - Penyakit Kresek atau sebutan lain Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit yang diakibatkan oleh serangan bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae. Penyakit ini menyerang tanaman padi pada fase awal pertumbuhan padi dan saat padi mulai membentuk anakan.

Patogen ini dapat mengenfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit (patogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lobang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun.

Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generative mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna.

Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan penyakit ini. Oleh karena itu penyakit hawar daun bakteri sering timbul terutama pada musim hujan.

Pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan tidak memupuk tanaman dengan Nitrogen secara berlebihan.

Gunakan pupuk Kalium dan tidak menggenangi pertanaman secara terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara berselang (intermiten). Selain itu, ada cara lain untuk mengendalikan penyakit ini.

Pertama adalah dengan penanaman benih dan bibit sehat. Mengingat pathogen penyakit HDB dapat tertular melalui benih maka sangat dianjurkan pertanaman yang terinfeksi penyakit HDB tidak digunakan sebagai benih. Bibit yang sudah terinfeksi/bergejala penyakit HDB sebaiknya tidak ditanam.

Kemudian perhatikan cara tanamnya. Untuk memberikan kondisi lingkungan yang kurang mendukung terhadap perkembangan penyakit HDB sangat dianjurkan tanam dengan system Legowo dan .menggunakan system pengairan secara berselang (intermitten irrigation). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban disekitar kanopi pertanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagai media penularan pathogen.

Selanjutnya adalah pemupukan. Pupuk Nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit HDB. Artinya pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu agar perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produksi yang tinggi disarankan menggunakan pupuk N dan K secara berimbang dengan menghindari pemupukan N terlalu tinggi.

Sanitasi lingkungan juga harus terus diperhatikan. Mengingat pathogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman, maka sanitasi lingkungan sawah dengan menjaga kebersihan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan.

Terakhir adalah pencegahan. Untuk daerah endemik penyakit HDB disarankan menanam varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap penyakit HDB. Pencegahan penyebaran penyakit perlu dilakukan dengan cara antara lain tidak  menanam benih yang berasal dari pertanaman yang terserang penyakit, mencegah terjadinya infeksi bibit melalui luka dengan tidak melakukan pemotongan bibit dan menghindarkan  pertanaman dari naungan. (shr/ybh)

Friday, March 31, 2017

Vertical Garden

View Article
Potret Pertanian -Tidak ada kata yang Tidak Bisa jika ada niat untuk mempercantik atau membuat taman dirumah kita, tak perduli dilhan bebas atau dilahan yang sempit sekalipun, asalkan ada Niat dan kemauan. Bebagai sistem telah dikembangkan seiring kemajuan teknologi dibidang pertanian,  Hidroponik misalkan,  sebuah sistem/teknologi dimana tanaman ditumbuhkan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam,karena itu hidroponik juga disebut sebagai budidaya tanam tanpa tanah atau soilless culture.Arti harafiah dari hidroponik adalah bekerja dengan air. 

Tapi kali ini saya akan membahas tentang pertanian dengan sisitem Vertical Garden , begitulah sebagian orang menyebut taman yang dibuat pada permukaan tembok ini. yang mana taman vertikal sama seperti konsep taman pada umumnya. namun yang membedakan adalah dari cara penempatan, Penempatan vertikal garden lebih tertata. Sebab dibuat pada modul-modul yang sama.

Vertical Garden adalah konsep taman tegak, yaitu tanaman dan elemen taman lainnya yang diatur sedemikian rupa dalam sebuah bidang tegak.  Dengan konsep ini, ruang tanam/space bisa jauh lebih besar dibanding dengan taman konvensional, bahkan jumlah tanaman yang dapat ditanam bisa beberapa kali lipat, sehingga dapat menambah ruang hijau secara sangat signifikan. Vertical Garden dapat lakukan di berbagai bangunan (outdoor maupun indoor), pagar, carport, serta dinding-dinding pembatas lainnya, sehingga terlihat lebih indah dan tidak monoton berupa dinding yang keras tapi lebih terkesan alami. Layaknya lukisan yang sangat artistik dan bisa dikatakan bahwa taman vertikal merupakan Perpaduan Seni dan Pertanian Modern.


Sunday, March 26, 2017

10 Tanaman Perkebunan Penghasil BBN

View Article
Potret Pertanian - BBN ( Bahan bakar nabati )  adalah semua bahan bakar yang berasal dari minyak nabati. BBN dapat berupa Bio-diesel, Bio-etanol, Bio-oil (minyak nabati murni). Bio-diesel yang merupakan bentuk ester dari minyak nabati setelah adanya perubahan sifat kimia karena proses transesterifikasi yang memerlukan tambahan metanol.
sumber poto : jitunews.com
Berikut beberapa tanaman perkebunan yang penghasil BBN atau bahan bakar nabati yang berdasarkan studi literatur dan lapangan yang telah dilakukan, ada sepuluh jenis tanaman perkebunan yang berpotensi sebagai bahan bakar nabati (BBN), yaitu:
 
  1. Aren (Arenga pinnata). Produksi nira aren pada umur 6-12 berkisar 8-22 liter/pohon/hari. Untuk memperoleh 1 liter etanol (kadar alkohol 70-90%) dibutuhkan 20-25 liter nira aren segar.
  2. Bunga Matahari (Helianthus annus L.). Panen pada umur 120 hari setelah tanam. Produksi rata-rata sekitar 2,2 ton/hektar untuk penanaman sepanjang musim dan 1,7 ton/hektar untuk penanaman 2 kali. Kadar minyak 25-50%.
  3. Jarak Kepyar (Ricinus communis L.). Panen pada umur 100-105 hari tergantung varietas. Ada 3 varietas, yaitu Asb 22, Asb 60, dan Asb 81, tetapi yang diminati petani adalah Asb 81, karena batang lebih kekar, tahan pada perubahan iklim, dan proses pembijiannya lebih mudah. Produksi rata-rata 1,6 ton/hektar. Kadar minyak 53-56%.
  4. Kelapa (Cocos nucifera L.). Daging buah kelapa merupakan salah satu sumber BBN yang diolah menjadi cocodiesel. Cocodiesel dapat secara langsung digunakan atau dicampur dengan solar. Nira dan air kelapa dapat juga dibuat bioetanol. Perkebunan kelapa bisa menghasilkan gula 19 ton/hektar/tahun setara dengan 12,9 m3 bioetanol/hektar/tahun. Air kelapa melalui proses penambahan starter, fermentasi, destilasi, dan dehidrasi, akan dihasilkan bietanol.
  5. Kemiri Sunan (Aleurites trisperma Blanco). Potensi produksi pada umur >10 tahun dapat mencapai 250 kg/pohon/hektar, apabila populasi 100 pohon/hektar, maka dapat dihasilkan 25 ton biji dan setara dengan 9.805 liter minyak kasar.
  6. Kesambi (Schleichera oleosa Merr). Daging biji mengandung minyak 70%. Tanaman kesambi di Indonesia belum banyak dibudidayakan secara intensif.
  7. Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.). Berbuah mulai umur 5-20 tahun dan berbuah 2 kali setahun. Kadar minyak 50%. Minyak biji nyamplung memiliki lama pembakaran 2 kali lipat dibanding dengan minyak tanah.
  8. Sagu (Metroxylon spp.). Umur panen batang sagu 7-10 tahun. Rata-rata produksi sagu 15 ton/hektar/tahun dan bila difermentasi akan menghasilkan 7,5 kilo liter bioetanol.
  9. Simalakian (Croton tiglium). Produksi buah pada tahun pertama + 0,3-0,5 ton/hektar dan meningkat hingga 3-5 ton/hektar setelah dewasa. Rendemen minyak 25-26% sehingga produksi minyak dapat mencapai 1,2 – 2,5 ton/hektar/tahun.
  10. Wijen (Semamum indicum L.). Umur panen bervariasi antara 2,5-5 bulan. Potensi produksi 0,9-1,6 ton/hektar. Kadar minyak 45-55%. MInyak wijen juga berpotensi sebagai biofuel dengan melalui proses transesterifikasi untuk menghasilkan biodiesel.

Mesin Panen Jagung Dan Padi

View Article
Potret Pertanian - Demi mendukung dan mewujudkan ketahanan pangan Nasional para peneliti dan pakar-pakar teknologi bersama pemerintah terus meningkatkan kiat-kiat untuk terus berinovasi disegala bidang, sperti teknologi Mesin Pemamanen jagung dan padi yang semakin memudahkan bagi para petani di negara ini.

Mesin pemanen ini dapat dipergunakan untuk memanen jagung dan padi, merontok, membersihkan dan mengarungkan dalam satu kali proses. Mesin ini menggunakan roda krepyak (crawler) dari karet yang dapat digunakan untuk lahan agak basah maupun lahan kering, serta digerakkan oleh motor diesel 43 HP, dilengkapi dengan rangkaian pisau potong, pengarah, perontok dan ayakan yang dapat disetel untuk merontok jagung maupun padi. Untuk memanen jagung bagian pengarah (header) berbentuk segitiga. Untuk bagian perontok, jarakan tara gigi pemukul dengan concave sebesar 2,5 – 3 cm, dan pada bagian ayakan pertama menggunakan plat perforated berdiameter 15 mm serta ayakan kedua berdiameter 12 mm.

Untuk dapat dipergunakan memanen padi, pada bagian pengarah (header) diganti berbentuk segi lima, dan pada baagian perontok jarak antara bagian pemukul dengan concave dirubah menjadi 1 – 1,5 cm. serta pada ayakan dirubaah menjadi berukuran 10 mm untuk ayakan pertama dan pada ayakan kedua dengan kawat ram berukuran 12 x 12 mm.

Mesin ini mempunyai bobot 2.150 Kg, dengan lebarkerja 160 cm denggan 3 baris pemotongan tanaman jagung. Kapsitas kerja mencapai 6-7 jam/ha, dengan Tingkat kehilangan hasil (susut hasil) < 3 %.

Thursday, March 23, 2017

Penemuan Terbaru Matahari Pengundang Air

View Article
Teknologi Matahari Pengundang Air
Potret Pertanian - Kemajuan Zaman terus berkembang pesat, seiring perkembangan teknologi yang terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan manusia, Para pakar terus berkarya tanpa henti untuk menemukan teknologi-teknologi tepat guna dan bermanfaat untuk halayak ramai, tak terkecuali didunia pertanian yang semakin hari terus berkembang demi mendapatkan hasil-hasil dan produksi pertanian semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya.Berikut penemuan terbaru Matahari Pengundang Air.

Sinar matahari ternyata dapat digunakan untuk mengundang air. Caranya, energi sinar matahari dikumpulkan melalui panel, diubah menjadi energi listrik, lalu disimpan pada baterai. Tenaga listrik itu digunakan menggerakkan pompa untuk menyedot air dalam tanah atau sungai lalu dialirkan ke lahan pertanian.

Peneliti Badan Litbang Pertanian Popi Rejekiningrum,  telah mengembangkan teknologi tersebut. Hal ini  menjadi jawaban atas mahalnya biaya listrik yang dikeluhkan petani bila disarankan menggunakan pompa untuk menyedot air. “Dengan energi matahari, kita terbebas dari biaya listrik atau solar yang sering dipakai untuk menggerakkan pompa,” kata Popi.

Popi mengungkap hasil risetnya pada seminar yang digelar di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Selasa (21/3/2017). Dengan riset temuannya, Popi menawarkan teknologi Aplikasi Sistem Irigasi Pompa Tenaga Surya yang Hemat Energi dan Air untuk Pengembangan Hortikultura.

Pada kesempatan tersebut Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Dedi Nursyamsi, M. Agr sangat mengapresiasi temuan tersebut. “Saya berharap teknologi ini segera diterima masyarakat di nusantara,” ujar Kepala BBSDLP.

Menurutnya, Bumi Nusantara diuntungkan karena terletak di garis khatulistiwa sehingga jarak Indonesia lebih dekat dengan matahari dibanding negara maju di Benua Amerika atau Eropa.

Kondisi tersebut, membuat matahari bersinar lebih terik dengan lama penyinaran lebih panjang dibanding negara subtropis seperti Jepang atau Belanda. “Energi besar dari matahari terbuang percuma tanpa dimanfaatkan,” tambah Kepala BBSDLP.

Pemanfaatan energi matahari di negara kita memang masih relatif rendah sehingga harus ditingkatkan karena di masa depan negara tropis harus menjadi lumbung pangan dunia.

Menurut Popi, sebagian besar wilayah pertanian di Indonesia—terutama lahan kering—membutuhkan pasokan air yang dapat dipenuhi dengan pompa. Namun, pompa yang digerakkan listrik dan BBM berbiaya tinggi sehingga usaha pertanian menjadi merugi. “Mana mau petani  kalau rugi,” kata Popi.

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi telah melirik potensi energi surya karena intensitas radiasi rata – rata di negara kita adalah 4,8 kWh/m2/hr yang memadai untuk menyediakan listrik penggerak pompa.

Energi matahari juga mampu mengurangi emisi CO2  sebesar 705,00 g Carbon/petani/MT yang dihasilkan dari jumlah BBM yang digunakan petani. “Bila panel surya dirawat apik, maka ini penghematan luar biasa,” tutup Popi. (lae)

Informasi lebih lanjut: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian

Basmi Hama Dengan Asap Cair Tembakau

View Article
Potret Pertanian - Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktek istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian. Dampak Kerugian Akibat Seranga Hama pada Tanaman Hama adalah sekelompok organisme pengganggu tanaman yagn dapat merusak tanaman budidaya baik secara fisik maupun fisiologisnya. Dampak kerugian akibat serangan hama tersebut adalah gagal Panen, Menurunya Jumlah Produksi Tanaman, Pertumbuhan Tanaman Terganggu, Menurunya Nilai ekonomi hasil Produksi, Kerugian bagi para Petani, Terjadinya Alih Fungsi Lahan, Degradasi Agroekosistem, Munculnya resistensi dan returgensi hama.

Dalam penanggulangan hama langkah singkat dalam penanganan masalah ini sebagian besar masih menggunakan pestisida kimia terutama dari bahan aktif methyl parathion, chlorpyriphos, phosalone, endosulfan, deltamethrin dan alphamethrin.

Di sisi lain penggunaan insektisida kimia ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti terjadinya resistensi hama, resurgensi, keracunan pada manusia, dan pencemaran terhadap lingkungan.

Melihat hal diatas, maka terbuka peluang untuk mengembangkan alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan. Salah satu alternatifnya adalah menggunakan pestisida nabati. Siapa sangka, salah satu bahan potensial untuk membuat pestisida nabati ini adalah tembakau, yang selama ini kita kenal sebagai bahan baku utama rokok.

Badan Litbang Pertanian telah mengembangkan pemanfaatan tembakau sebagai pestisida alami melalui penelitian di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas), Malang. Pestisida nabati ini dibuat dari asap cair tembakau yang telah melalui proses pirolisis. Proses pirolisis merupakan proses pembakaran suhu tinggi yang mengubah material tembakau menjadi bahan asap cair.

Dari proses pirolisis ini diperlukan bahan baku sebanyak 1 kilogram tembakau dan kemudian diperoleh sebanyak 30 ml asap cair tembakau. Asap cair inilah yang nantinya digunakan sebagai bahan baku pestisida nabati untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan.

Peran asap cair sebagai insektisida terlihat dari kandungan kimianya melalui analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).  Asap cair hasil pirolisis tembakau pada berbagai variasi suhu pirolisis mengandung senyawa yang berpotensi dapat digunakan sebagai insektisida terutama dari golongan senyawa kimia keton, furfural, dan alkohol.

Asap cair ini efektif untuk membunuh hama dengan dosis anjuran dan aplikasinya tidak menyebabkan ledakan hama serta tidak menyebabkan fitotoksisitas tanaman. Pestisida nabati ini ampuh untuk mengontrol serangan hama khususnya pada komoditas tebu dan tembakau. Teknologi ini juga sudah di usulkan paten dengan nomor usulan paten s00201608756. (Heri Prabowo/Subiyakto/ybh).

Sunday, March 5, 2017

Teknologi Pembuatan Biochar Sederhana

View Article
Potret Pertanian - Tanah sebelum ditanami kembali tentunya harus dipastikan dulu ketersediaan nutrisi dan unsur pendukung pertumbuhan lainnya. Untuk mempercepat hal itu, perlu ditambahkan unsur pembenah tanah yang mampu meningkatkan pH tanah, retensi hara, hingga kemampuan tanah dalam memegang air dan memperpanjang masa pertanaman.

Salah satu teknologi yang mampu melakukan hal itu adalah Biochar. Biochar adalah arang hasil pembakaran tidak sempurna dari limbah pertanian yang sulit terurai seperti kayu, sekam padi, tempurung kelapa sawit, kulit buah kakao dan limbah lainnya.

Ternyata, pembuatan Biochar tidaklah sesulit yang dibayangkan. Bahkan, petani dapat dengan mudah membuatnya sendiri dengan alat dan bahan sederhana. Biochar misalnya dapat dibuat dari sekam padi dengan menggunakan tungku tanah sederhana.

Tungku tanah dibuat dengan cara menggali tanah menyerupai setengah bola dengan diameter 1,5 m dan kedalaman 50 cm. Untuk suplai oksigen digunakan cerobong asap dengan diamater mencapai 30-35 cm. Tungku ini merupakan alat pembuatan Biochar paling murah, rendah biaya operasionalnya, dan efektif dalam membuat Biochar.

Setelah lubang atau tungku telah siap, sekam padi dapat dimasukkan dalam lubang tersebut dengan menaruh cerobong asap di tengah sekam dengan mulai pembakaran dari dalam cerobong menggunakan material mudah terbakar seperti ranting pohon. Kunci keberhasilan pembuatan agribiochar dengan metode di atas adalah terletak pada cerobong asap dan nyala api pada saat awal pembakaran

Tungku berukuran 1,5 x 05 m tersebut memiliki kapasitas 40 kg sekam padi yang setelah melalui proses pembakaran selama 10 hingga 12 jam akan menghasilkan Biochar sebanyak 10 kg. Setelah itu petani dapat langsung menggunakan Biochar sebagai pembenah tanah sebelum mulai tanam. (ybh/is)

Informasi lebih lanjut : Balai Penelitian Tanah

Apa Yang Dimaksut Dengan Tanaman Transgenik

View Article
Sumber Gambar : http://rumahbiotek.blogspot.co.id
Potret Pertanian - Tanaman transgenik adalah tanaman hasil rekayasa genetik yang diperoleh dengan bantuan bioteknologi. Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BBiogen), yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memiliki salah satu mandat yaitu mengembangkan varietas unggul dengan bantuan bioteknologi.

Prinsip dasar tentang pembuatan tanaman transgenik penting untuk dipahami agar tidak terjadi salah paham dan asumsi-asumsi negatif yang dapat merugikan penggunaan produk rekayasa genetik ini.

Pada dasarnya, teknologi rekayasa genetik terkait dengan perubahan genetik pada inang. Perubahan genetik ini sebenarnya dapat terjadi secara alami. Contoh paling sederhana adalah persilangan antara dua individu yang menghasilkan anakan yang memiliki materi genetik dari tetuanya.

DNA (Deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat)

Perubahan genetik pada individu berhubungan dengan perubahan DNA pada individu tersebut. DNA merupakan molekul dalam sel yang dapat membentuk satuan gen yang merupakan unit pewaris sifat bagi organisme seperti warna mata, warna mahkota bunga, besar buah dan lainnya.

DNA memiliki untai ganda, bermuatan negatif karena gugus fosfat, sensitif terhadap perubahan pH dan banyak memiliki domain untuk berikatan dengan molekul lain (DNA, RNA atau protein).

Gen biasanya diturunkan (diwariskan) dari satu individu ke anakannya melalui proses DNA rekombinasi yang biasanya terjadi pada saat pembelahan sel pada perkembangan makhluk hidup.

DNA ini dapat dimodifikasi. Urutannya bisa diubah, ditambah atau dikurangi, sehingga sifat yang dibawa oleh gen juga akan berubah. Artinya, individu tersebut bisa memiliki penampakan atau sifat yang berbeda.

Misalkan, bila individu berupa tanaman padi yang rentan terhadap kekeringan ditambah dengan gen yang membawa sifat tahan kekeringan, maka tanaman padi tersebut menjadi tahan terhadap kekeringan.

Untuk memodifikasi DNA, digunakan bahan bahan yang berasal dari alam seperti enzim restriksi yang dapat memotong DNA, ligase yang dapat menggabungkan DNA dan lainnya. Sehingga, mekanisme yang berlangsung akan meniru mekanisme yang terjadi dalam sel secara alami.

Informasi lebih lanjut : Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian