Showing posts with label hama dan penyakit tanaman. Show all posts
Showing posts with label hama dan penyakit tanaman. Show all posts

Monday, September 25, 2017

Hama Kutu Putih pada Ubi Kayu

View Article
POTRET PERTANIAN - Hama serangga penting yang sering menyerang budi daya ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) adalah Kutu Putih Phenacoccus manihoti Matile-Ferrero (Hemiptera: Pseudococcidae) atau mealybug. Kutu Putih bukan merupakan hama asli dari Indonesia. Kutu Putih berasal dari kawasan Amerika Selatan. Awal tahun 1970-an hama ini mulai menyebar ke kawasan Afrika dan berkembang menjadi hama penting yang menyerang tanaman ubi kayu.

Serangan Kutu Putih pada musim kering menyebabkan terjadinya gagal panen. Penyebaran hama kutu putih berlanjut hingga ke Asia Tenggara seperti Thailand, Laos, Kamboja, dan Indonesia.

Kutu Putih merupakan hama yang bersifat partenogenetik telitoki, yaitu semua keturunan yang dihasilkan adalah betina, sehingga setiap kutu mampu manghasilkan keturunan. Pada kondisi optimal, satu betina mampu menghasilkan 200−600 butir telur.

Kutu Putih dewasa memiliki tubuh berwarna merah muda dengan bentuk oval, ditutupi tepung putih berlilin, bagian mata relatif berkembang, dan tungkai berkembang baik dengan ukuran yang sama. Telur Kutu Putih berbentuk oval, berwarna kuning keemasan dan ditutupi oleh kantung telur (ovisac). Kutu Putih mengalami stadia instar 1 sampai dengan instar 4. Perubahan instar ditandai dengan adanya penambahan ruas tubuh. Siklus hidup kutu putih rata-rata dari telur hingga dewasa sekitar 28 hari.

Kutu Putih menyerang dengan cara menghisap cairan pada bagian daun dan pucuk tanaman. Gejala yang timbul akibat serangan tersebut adalah daun mengkerut dan pucuk mengerdil hingga menyerupai bunga atau disebut bunchy tops.

Serangan berat dapat menyebabkan defoliasi (perontokan daun), akan tetapi gejala tersebut sangat jarang terjadi karena ubi kayu dapat bertunas kembali dengan cepat. Serangan kutu putih pada batang mengakibatkan terjadinya distorsi. Kehilangan hasil yang ditimbulkan oleh serangan kutu putih berkisar 30% hingga 80%.

Pengendalian hama Kutu Putih yang telah dilakukan dengan cara menggunakan musuh alami (parasitoid: Anagyrus lopezi), bahan kimia organik (ekstrak akar ubi kayu, minyak mimba), pengendalian dengan kultur teknik, dan menggunakan varietas tahan. Penggunaan mulsa (bahan penutup tanaman) dan penambahan pupuk organik maupun pupuk jenis lain pada dosis yang tepat dapat meningkatkan ketahanan ubi kayu. Penggunaan tanaman yang sehat sebagai bahan tanam merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah hama Kutu Putih.(Fbz)

Tuesday, September 5, 2017

Penyakit Padi yang Disebabkan oleh Virus

View Article
POTRET PERTANIAN - Upaya pengendalian penyakit virus kerdil yang ditularkan oleh wereng batang coklat hanya akan berhasil apabila petugas/penyuluh lapang dapat memberikan pemahaman terhadap petani atau pelaku usaha tani padi tentang aspek-aspek berkaitan dengan penyakit tersebut.

Petani harus memahami bahwa penyakit padi yang disebabkan oleh virus ditularkan wereng batang coklat tersebut tidak dapat disembuhkan dan penyakit virus bersifat sistemik sehingga tanaman padi yang sudah terinfeksi selain tidak akan menghasilkan, virus juga tidak akan hilang sampai tanaman tersebut dimusnahkan (mati).

Singgang atau anakan padi yang tumbuh dari sisa tanaman yang telah dipotong akan menjadi sumber inokulum bagi pertanaman sehat disekitarnya. Bahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisiologi pada singgang tanaman sakit yang baru tumbuh, perkembangan virus akan kembali terjadi sehingga mempunyai tingkat efektivitas yang tinggi sebagai sumber inokulum setara dengan tanaman muda yang sakit.

Oleh karena itu, harus diberikan pemahaman kepada petani bahwa tanaman sakit yang ditemukan di lapangan harus dimusnahkan secepat mungkin. Sebaiknya tanaman sakit dimusnahkan dengan cara dibebeskan ke dalam tanah sehingga benar-benar mati dan tidak muncul diatas permukaan tanah kembali.

Keberadaan hama khususnya wereng coklat dan sumber inokulum virus harus terus dimonitor, karena kewaspadaan terhadap akan datangnya penyakit virus tersebut harus dimulai terutama sejak ditemukannya wereng migran (generasi 0 atau G0).

Munculnya Wereng G0 atau paling lambat pada generasi pertama (G1) harus segera dilakukkan pengendalian apalagi jika diketahui atau ditemukan adanya sumber inokulum.

Informasi bahwa virus kerdil hampa dan kerdil rumput bersifat persisten, artinya bahwa wereng yang telah menghisap pada tanaman sakit akan selalu dapat menularkan kepada tanaman sehat selama hidupnya, apalagi untuk wereng coklat bersayap (makroptera) yang tentunya aktif bergerak dari satu tanaman ke tanaman lainnya.

Pertanaman yang tidak serempak dalam satu areal hamparan yang sama akan menyebabkan keberadaan wereng coklat maupun penyakit virus yang selalu ada.

Beberapa jenis gulma juga dapat menjadi inang alternative bagi wereng coklat maupun virus yang ditularkannya, terutama dari jenis Gramineae (rumput-rumputan) dan Cyperaceae (teki-tekian). Berkaitan dengan hal tersebut, maka sanitasi lahan sebelum tanam perlu dilakukan selain terhadap sisa-sisa tanaman padi sebelumnya juga terhadap gulma-gulma tersebut.

Beberapa kesalahan yang selama ini sering terjadi sehingga menyebabkan serangan wereng dan virus menjadi semakin sulit dikendalikan antara lain adalah penanaman padi yang tidak serempak dalam hamparan yang sama. Hal ini adalah suatu kesalahan yang paling banyak terjadi.

Kekeliruan ini terjadi terutama di daerah dengan irigasi yang selalu tersedia. Keberadaan air yang selalu tersedia memicu penanaman padi yang tidak serempak, bahkan penanaman padi dilakukan terus-menerus tanpa jeda dan tanpa rotasi dengan tanaman lain, sehingga keberadaan hama terutama wereng coklat dan penyakit virus yang ditularkannya selalu ada dan berkembang.

Kesalahan lain yang banyak dilakukan adalah dengan membuat pembibitan di tempat dimana sumber inokulum berada. Kebanyakan petani membuat pembibitan dengan cara menyulik, yaitu ketika pertanaman masih stadia pemasakan, petani sudah mengambil sebagian lahannya untuk pembibitan.

Hal ini dilakukan tanpa melihat kondisi pertanaman sebelumnya. Pada kondisi pertanaman sebelumnya yang terserang wereng coklat bahkan dengan populasi tinggi dan adanya sumber inokulum virus yang juga tinggi, tetap dilakukan pembibitan dengan cara tersebut.

Transaksi jual beli dari bibit yang tumbuh dari cara pembibitan seperti diatas,juga ikut mempercepat penyebaran wereng coklat dan penyakit virus yang semakin meluas.

Beberapa daerah mempunyai preferensi terhadap suatu  varietas padi meskipun tidak mempunyai latar belakang ketahanan terhadap hama utama khususnya wereng coklat dan penyakit virus serta ditanam secara terus menerus pada lahan yang sama.

Kondisi inilah yang memicu populasi wereng maupun intensitas penyakit virus yang semakin tinggi. Pada daerah yang sudah endemis wereng coklat dan virus kerdil yang ditularkannya akan dapat ditekan jika menggunakan  varietas tahan baik tahan terhadap wereng coklatnya ataupun tahan terhadap virusnya.

Kesalahan lain yang banyak terjadi adalah membiarkan pertanaman sakit dan enggan melakukan eradikasi meskipun kondisi serangan sudah sangat parah. Beberapa petani enggan melakukan eradikasi tanaman sakitnya dengan alasan wereng coklatnya sudah tidak ada (sudah dikendalikan), padahal jika dilihat penyakit virusnya sudah sangat tinggi intensitasnya.

Bahkan  tak jarang pertanaman yang sudah jelas-jelas terserang virus dilakukan pemupukan dengan harapan akan menghijau kembali. Alasan lain mengapa petani enggan mengeradikasi pertanaman yang terinfeksi adalah karena memerlukan biaya dan tenaga yang menurutnya sis-sia, padahal dengan membiarkan pertanamannya yang sudah sakit parah tersebut sama artinya menyediakan sumber inokulum bagi pertanaman padi sekitarnya termasuk pertanamannya sendiri pada musim tanam berikutnya.

Hal sama juga terjadi pada pembiaran sisa tanaman sebelumnya yang berupa singgang-singgang tanaman sakit ketika lahan tetangganya sudah mulai tanam, sehingga sama artinya memindahkan wereng coklat dan virus kepada pertanaman berikutnya.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah ketika pengendalian menggunakan insektisida. Seringkali petani menggunakan insektisida yang tidak tepat. Tidak semua insektisida cocok untuk pengendalian wereng coklat, bahkan beberapa bahan aktif insektisida dapat menyebabkan terjadinya resistensi ataupun resurjensi.

Banyak petani yang melakukan kesalahan dengan mencampur beberapa pestisida sekaligus. Anggapan petani adalah bahwa campuran beberapa pestisida akan lebih manjur membunuh hama. Pada saat aplikasi insektisida, kesalahan yang sering dilakukan petani adalah tidak tepat sasaran. Petani mengaplikasikan insektisida untuk wereng batang coklat pada bagian atas tajuk pertanaman, sedangkan wereng coklat posisinya berada pada batang tanaman padi, apalagi jenis racun yang diaplikasikan adalah racun kontak. (Suprihanto/Shr)

Tuesday, April 18, 2017

Lima Langkah Praktis Kendalikan Penyakit Hawar Daun

View Article
Potret Pertanian - Penyakit Kresek atau sebutan lain Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) merupakan penyakit yang diakibatkan oleh serangan bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae. Penyakit ini menyerang tanaman padi pada fase awal pertumbuhan padi dan saat padi mulai membentuk anakan.

Patogen ini dapat mengenfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman dari mulai pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit (patogen) menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lobang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun.

Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati dan pada tanaman fase generative mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna.

Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terutama adalah kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan penyakit ini. Oleh karena itu penyakit hawar daun bakteri sering timbul terutama pada musim hujan.

Pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu untuk menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri disarankan tidak memupuk tanaman dengan Nitrogen secara berlebihan.

Gunakan pupuk Kalium dan tidak menggenangi pertanaman secara terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara berselang (intermiten). Selain itu, ada cara lain untuk mengendalikan penyakit ini.

Pertama adalah dengan penanaman benih dan bibit sehat. Mengingat pathogen penyakit HDB dapat tertular melalui benih maka sangat dianjurkan pertanaman yang terinfeksi penyakit HDB tidak digunakan sebagai benih. Bibit yang sudah terinfeksi/bergejala penyakit HDB sebaiknya tidak ditanam.

Kemudian perhatikan cara tanamnya. Untuk memberikan kondisi lingkungan yang kurang mendukung terhadap perkembangan penyakit HDB sangat dianjurkan tanam dengan system Legowo dan .menggunakan system pengairan secara berselang (intermitten irrigation). Sistem tersebut akan mengurangi kelembaban disekitar kanopi pertanaman, mengurangi terjadinya embun dan air gutasi dan gesekan daun antar tanaman sebagai media penularan pathogen.

Selanjutnya adalah pemupukan. Pupuk Nitrogen berkorelasi positif dengan keparahan penyakit HDB. Artinya pertanaman yang dipupuk Nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan keparahan penyakit lebih tinggi. Sebaliknya dengan pupuk Kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Oleh karena itu agar perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produksi yang tinggi disarankan menggunakan pupuk N dan K secara berimbang dengan menghindari pemupukan N terlalu tinggi.

Sanitasi lingkungan juga harus terus diperhatikan. Mengingat pathogen dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman, maka sanitasi lingkungan sawah dengan menjaga kebersihan sawah dari gulma yang mungkin menjadi inang alternatif dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi merupakan usaha yang sangat dianjurkan.

Terakhir adalah pencegahan. Untuk daerah endemik penyakit HDB disarankan menanam varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap penyakit HDB. Pencegahan penyebaran penyakit perlu dilakukan dengan cara antara lain tidak  menanam benih yang berasal dari pertanaman yang terserang penyakit, mencegah terjadinya infeksi bibit melalui luka dengan tidak melakukan pemotongan bibit dan menghindarkan  pertanaman dari naungan. (shr/ybh)

Thursday, March 23, 2017

Kerugian Yang Timbul Akibat Serangan Hama dan Penyakit Tanaman

View Article
Potret Pertanian - Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan.

Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah, atau nyamuk yang menjadi vektor malaria.

Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian.

Istilah "suci hama" juga digunakan sebagai padanan kata "steril" dalam pengertian bebas dari penyebab kontaminasi. ( sumber : wikipedia )


 Dampak kerugian akibat serangan hama tersebut adalah :

1. Gagal Panen 

Akibat serangan hama yang paling ditakuti oleh para petani adalah terjadinya gagal panen. Kegagalan ini dikarenakan hama yang menyerang tanaman menjadikan tanaman sebagai bahan makanan, dan tempat tinggal bagi  mereka. Hama merusak tanaman dengan cara :
  • Menghisap cairan tanaman
  • Memotong batang tanaman baik yang muda maupun tua
  • Memakan daun muda dan tua serta tunas-tunas muda pada tanaman
  • Menghisap cairan dan memakan daging buah yang dapat menurunkan nilai ekonomis buah
  • Memnbuat rumah atau sarang sebagai tempat tinggal dan berkembang biak baik pada batang, daun maupaun buah
2. Menurunnya Jumlah Produksi Tanaman                                                                   
               
Dengan serangan yang dilakukan oleh hama pada tanaman maka tanaman tidak akan mampu menghasilkan produksi secara maksimal karena terjadinya pembatasan pertumbuhan akibat hama yang berada pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan karena proses fisiologi tanaman yang terganggu. Dengan daun dan batang serta tunas-tunas muda yang habis dimakan oleh hama secara tidak langsung tanaman tidak dapat melaukan proses fotosintesis untuk menghasilkan produksi dengan baik bahkan tidak dapat melakukan fotosentesis

3. Pertumbuhan Tanaman yang Terganggu
Serangan hama dapat meyebabkan pertumbuh tanaman menjadi terhambat dan bahkan tidak jarang mengalami stagnan pertumbuhan atau kerdil. Seperti serangan hama wereng pada tanaman padi yang dapat mengakibatkan tanaman padi menjadi kerdi dan tidak dapat berproduksi.

4. Menurunkan Nilai Ekonomis Hasil Produksi
                                                              
Hama yang menyerang pada buah atau bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomis akan menjadi menurun. Hal ini disebabkan, hama merusak bagian-bagian buah mupun daun tanaman. Dimana penurunan ini karena adanya bagian yang diseranga oleh hama mengalami cacat dan busuk serta mengandung ulat atau larva-larva hama. Sehingga produksi tidak dapat dikonsumsi.

5. Kerugian bagi para Petani                                                                                   
Dampak ini timbul karena tidak adanya produksi yang dihasilkan oleh tanaman atau gagal panen serta turunnya nilai ekonomis hasil produksi. Kerugian ini disebabkan tidak adanya pendapatan petani sedangkan biaya budidaya tanaman telah mereka keluarkan dalam jumlah yang sangat besar baik dari segi pengolahan lahan, benih, penanaman serta perawatan. Sedangkan hasilnya tidak meraka dapatkan. Hal ini semakain memperpuruk kondisi dan iklim pertanian di indonesia

6. Terjadinya Alih Fungsi Lahan                                                                                    
Alih fungsi lahan dilakukan oleh para petani dikarenakan pendapatan yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan pengeluaran yang dilakakan dalam usaha pertanian. Sehingga muncul pemikiran untuk mengalih fungsikan lahan pertanian yagn subur ke bidang usaha lain yang lebih menjanjikan keuntungan bagi mereka. Kondisi seperti ini semakin memperpuruk iklim pertanian di indonesia serta ketahan bahan pangan dalam negri.

7. Degradasi Agroekosistem                                                                                             
Degradasi ekosistem terjadi karena adanya usaha yng dilakukan oleh para petani dalam penaggulangan serangan hama yang tidak memikirikan dampak negatif terhadap lingkungan serta komponen-komponen penyusun agroekosistem. Pencemaran lingkungan tersebut kerena adanya zat-zat yang berbahaya akibat digunakannya pestisida. Dengan adanya penanggulanag serangan hama yang tida sesuai ini menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem alami.
 
8.Munculnya resistensi dan returgensi hama                                           
Dengan penanggulangan serangan  hama yang tidak sesuai akan menyebabkan resistensi atau kekebalan hama terhadap pestisida dan returgensi atau ledakan jumlah populasi hama yang berakibat pada damapa kerugian aygn lebih komplek dalam usaha budidaya tanaman itu sendiri.

Dampak Kerugian Akibat Serangan Penyakit pada Tanaman
            
Dampak serangan penyakit tanaman tidak separah dampak yang ditimbulkan akibat serangan oleh hama. Namun, dampak yang timbul juga tidak kalah hebatnya dengan serangan hama. Serangan penyakit pada tanaman budidaya lebih banyak mengarah pada proses fisiologinya. Karena menyerang sel dan jaringan tanaman. Adapun dampak kerugian yagn ditimbulkan yaitu :
 
1. Terganggunya Proses Fotosintesis tanaman                                                            
Hal ini terjadi karena terjadinya kerusakan pada bagain penampang daun akibat penyakit. Sehingga daun tidak dapat  meyerap sinar matahari secara maksimal. Penyakit yang menyerang daun antara lain :
  • Karat daun oleh Cendawan Phachyrizi phakospora
  • Penyakit bercak bakteri oleh Xanthomonas phaseoli
  • Virus mozaik yang menyerang daun muda dan tunas muda
2. Terganggunya proses absorbsi unsur hara dan mineral tanah                        
Dengan terganggunya proses penyerapan unsur hara dan mineral dalam tanah menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu. Penyakit ini biasanya menyerang bagian akar tanaman sperti penyakit jamur akar merah, putih pada tanaman karet. Penyekit ini juga menyebabkan tanaman menjadi layu dan mati akibat kekurangan asupan nutrisi.
 
3. Kegagalan Panen               
Serangan penyakit tanaman juga mengakibatkan kegagalan panen. Seperti pada tanaman jeruk yang terserangan penyakit CCBD. Tanaman jeruk tidak akan menghasilkan buah akibat serangan penyakit ini. Selain itu, tanaman juga harus di musnahkan dan diganti dengan tanaman baru yagn merupakan kerugian besar bagi para  petani karena harus mengeluarkan biaya yang besar.
 
4. Penurunan nilai ekonomis                                                         
Disebakan terjadinya kerusakan pada bagian-bagian hasil produksi tanaman. Seperti terjadi busuk, polong yang tida berisi pada tanaman legum dan lain-lain. Dengan dampak ini akan semakin mempersulit kehidupan para petani.

Permasalahan Penerapan PHT di Tingkat Petani
  • Kurang meratanya informasi mengenai ketahanan tanaman terhadap penyakit pada berbagai komoditas tanaman. Apalagi masih banyak petani yang menggunakan benih tidak bersertifikat yang ketahanannya tidak diketahui.
  • Penelitian tentang ras patogen juga kurang di Indonesia padahal ras selalu berkaitan dengan ketahanan tanaman.  Tanaman yang tahan terhadap ras tertentu dapat menjadi sangat rentan terhadap ras lainnya.
  • Aspek budidaya, mulai perencanaan tanam, persiapan tanam, pengolahan tanah, pemupukan, penyiangan, dan pemeliharaan lain belum disengaja agar tingkat penyakit tertekan.  Selama ini,  aspek budidaya masih lebih ditujukan agar tanaman tumbuh subur, dan berproduksi tinggi, bukan menjadi lebih tahan.
  • Musuh alami yang dimaksud dalam prinsip PHT kurang berkaitan dengan musuh alami patogen tumbuhan. Permasalahannya adalah bahwa patogen yang renik juga mempunyai musuh alami yang renik pula, sehingga tidak mudah dipahami petani.  Demikian juga, ternyata belum banyak penelitian yang mengungkap tentang bahaya pestisida terhadap kelestarian musuh alami patogen tumbuhan.
  • Masalah lainnya adalah bahwa pengamatan mingguan tidak mudah diterapkan untuk penyakit tertentu yang menyebabkan kerusakan secara cepat dan keberadaannya sangat tergantung cuaca, seperti hawar daun kentang dll.  Untuk kasus demikian justru yang diperlukan adalah pengamatan terhadap cuaca untuk meramalkan kapan datangnya penyakit. Ternyata,  teknologi peramalan penyakit tumbuhan masih sangat minim dikembangkan di Indonesia.  Nampaknya teknologi peramalan nasib justru lebih berkembang di negara kita.
  • Untuk menjadikan petani sebagai ahli PHT dengan metode SLPHT ternyata terbentur pada kurangnya materi tentang aspek patogen, penyakit dan pengendaliannya terutama untuk komoditas tertentu.

Basmi Hama Dengan Asap Cair Tembakau

View Article
Potret Pertanian - Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktek istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan. Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian. Dampak Kerugian Akibat Seranga Hama pada Tanaman Hama adalah sekelompok organisme pengganggu tanaman yagn dapat merusak tanaman budidaya baik secara fisik maupun fisiologisnya. Dampak kerugian akibat serangan hama tersebut adalah gagal Panen, Menurunya Jumlah Produksi Tanaman, Pertumbuhan Tanaman Terganggu, Menurunya Nilai ekonomi hasil Produksi, Kerugian bagi para Petani, Terjadinya Alih Fungsi Lahan, Degradasi Agroekosistem, Munculnya resistensi dan returgensi hama.

Dalam penanggulangan hama langkah singkat dalam penanganan masalah ini sebagian besar masih menggunakan pestisida kimia terutama dari bahan aktif methyl parathion, chlorpyriphos, phosalone, endosulfan, deltamethrin dan alphamethrin.

Di sisi lain penggunaan insektisida kimia ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti terjadinya resistensi hama, resurgensi, keracunan pada manusia, dan pencemaran terhadap lingkungan.

Melihat hal diatas, maka terbuka peluang untuk mengembangkan alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan. Salah satu alternatifnya adalah menggunakan pestisida nabati. Siapa sangka, salah satu bahan potensial untuk membuat pestisida nabati ini adalah tembakau, yang selama ini kita kenal sebagai bahan baku utama rokok.

Badan Litbang Pertanian telah mengembangkan pemanfaatan tembakau sebagai pestisida alami melalui penelitian di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas), Malang. Pestisida nabati ini dibuat dari asap cair tembakau yang telah melalui proses pirolisis. Proses pirolisis merupakan proses pembakaran suhu tinggi yang mengubah material tembakau menjadi bahan asap cair.

Dari proses pirolisis ini diperlukan bahan baku sebanyak 1 kilogram tembakau dan kemudian diperoleh sebanyak 30 ml asap cair tembakau. Asap cair inilah yang nantinya digunakan sebagai bahan baku pestisida nabati untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan.

Peran asap cair sebagai insektisida terlihat dari kandungan kimianya melalui analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).  Asap cair hasil pirolisis tembakau pada berbagai variasi suhu pirolisis mengandung senyawa yang berpotensi dapat digunakan sebagai insektisida terutama dari golongan senyawa kimia keton, furfural, dan alkohol.

Asap cair ini efektif untuk membunuh hama dengan dosis anjuran dan aplikasinya tidak menyebabkan ledakan hama serta tidak menyebabkan fitotoksisitas tanaman. Pestisida nabati ini ampuh untuk mengontrol serangan hama khususnya pada komoditas tebu dan tembakau. Teknologi ini juga sudah di usulkan paten dengan nomor usulan paten s00201608756. (Heri Prabowo/Subiyakto/ybh).

Saturday, March 11, 2017

Hama Orong-orong

View Article
Potret Pertanian - Berbagi
Kategori OPT

:Hama
Nama Umum:Mole cricket
Nama Latin: Gryllotalpa sp.
Nama Daerah: Orong-orong
Faktor Yang Mempengaruhi:Mobilitas tinggi, Populasi tinggi pada musim kemarau
Tindakan Preventif:Sanitasi lahan, Perlakuan tanah, Penggunaan Mulsa plastik Hitam perak, Solarisasi,
Pengendalian:Pemasangan umpan bercun (10 kg dedak+100 ml insektisida klorpirifos); penggunaan insektisida sistemik yang diyaburkan di sekitar tanaman; konservasi musuh alami seperti parasitoid Champ somersis leefmansi Beter; Aplikasi insektisida yang dianjurkan
Bahan Aktif yg dapat digunakan:
Deskripsi:Serangga berwarna coklat kehitaman menyerupai cengkerik dengan sepasang kaki depan yang kuat. Sifatnya sangat polifag, memakan akar, umbi, ubi dan tanaman muda.

Hama Nematoda

View Article
Potret Pertanian - Berbagi
Kategori OPT

:Hama
Nama Umum:Nematoda akar
Nama Latin: Meloidogyne sp.
Nama Daerah: Nematoda
Faktor Yang Mempengaruhi:
Tindakan Preventif:Sterilisasi media tanam, penggunaan benih yang sehat, serta sanitasi lingkungan pertanaman
Pengendalian:Pencegahan penyakit ini dengan sterilisasi media tanam, penggunaan benih yang sehat, serta sanitasi lingkungan pertanaman.
Bahan Aktif yg dapat digunakan:
Deskripsi:Nematoda ini mempunyai inang yang sangat luas seperti kentang, kubis, tomat, ubi jalar, tembakau, teh, tebu, jahe, dan padi-padian. Gejala khas serangan nematoda akar adalah terbentuknya bintil-bintil akar. Pada bagian akar tanaman yang terinfeksi terbentuk kanker (gall) seperti yang disajikan pada gambar 22, atau bahkan busuk bila serangan sudah serius. Gejala umum yang dapat diamati adalah tanaman menjadi layu dan daun menguning akibat rusaknya perakaran. Pertumbuhan pada bagian atas tanaman menjadi terhambat. Kumpulan telur nematoda Meloidogyne dilindungi oleh cairan pekat. Larva stadium kedua akan ke luar dari telur, berbentuk cacing dengan ukuran panjang 0,3 - 0,5 mm. Larva tersebut bergerak aktif melalui selaput air di antara partikel-partikel tanah dan menyerang akar tanaman dengan cara melukai epidermis ujung akar dengan stilet (alat penusuk dan pengisap pada mulutnya) lalu masuk ke dalam jaringan sampai ke jaringan tengah. Larva tersebut mengisap cairan sel akar. Cairan pencernaan yang dikeluarkan oleh nematoda ini merangsang terjadinya pembelahan sel akar sehingga terjadi pembengkakan. Keadaan ini dibutuhkan untuk perkembangan larva. Nematoda betina berbentuk seperti buah per dengan ukuran panjang 0,5-1,2 mm. Nematoda jantan berbentuk cacing memanjang dengan ukuran 1,0 - 2,0 mm. Saat ini telah banyak nematisida untuk pengendalian nematoda Meloidogyne yang dapat digunakan.

Hama Thrips parvispinus Karny

View Article
Potret Pertanian - Berbagi
Kategori OPT

:Hama
Nama Umum:Thrips
Nama Latin: Thrips parvispinus Karny
Nama Daerah: Trips
Faktor Yang Mempengaruhi:Kelembaban rendah dan suhu lingkungan yang hangat
Tindakan Preventif:Sanitasi lahan, pemasangan perangkap kuning, mengatur waktu tanam, repellent
Pengendalian:Pengendalian hama ini, yaitu dengan cara mengatur waktu tanam, memasang perangkap likat warna kuning dan perangkap tersebut dipasang pada saat tanam, penggunaan mulsa plastik hitam perak untuk memutus siklus hidup hama sehingga tidak dapat berkepompong di dalam tanah di sekitar tanaman karena terhalang oleh mulsa plastik tersebut, dan insektisida berbahan aktif merkaptodimetur sesuai dosis anjuran. Penggunaan agens hayati seperti Beauveria bassiana dalam waktu 2-3 hari sehingga hama yang terinfeksi tidak dapat beraktifitas.
Bahan Aktif yg dapat digunakan:
Deskripsi:Hama ini bersifat polifag dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap inangnya. Hama ini mempunyai tanaman inang utama yaitu cabai, bawang merah, bawang daun dan jenis bawang lainnya, dan tomat. Tanaman inang lain yaitu tembakau, kopi, ubi jalar, labu siam, bayam, kentang, kapas, tanaman dari famili Crusiferae, Crotalaria, aneka kacang, mawar, dan sedap malam. Hama trips menyerang dengan cara menggaruk dan mengisap cairan tanaman (daun muda/pucuk) dan tunas-tunas muda, sehingga sel-sel tanaman menjadi rusak dan mati. Gejala serangan paling banyak dijumpai pada permukaan atas daun atau bunga. Daun tampak keriput, mengeriting dan melengkung ke atas. Trips biasanya makan di bagian dalam kuncup bunga atau daun yang baru berkembang. Akibat hisapan trips, jaringan tanaman menjadi kering sehingga menimbulkan gejala keperakan. Gejala pada bunga berupa bintik-bintik putih. Kerusakan tanaman ini ditandai dengan adanya bercak-bercak keperak-perakan/kekuning-kuningan seperti perunggu terutama pada permukaan atas daun. Gejala bercak keperak-perakan awalnya tampak dekat tulang daun menjalar ke tulang daun hingga seluruh permukaan daun menjadi putih. Daun kemudian menjadi coklat, mengeriting atau keriput dan akhirnya kering. Pada intensitas serangan yang tinggi, tepi daun berkerut, menggulung ke dalam dan timbul benjolan seperti tumor sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan bila daun tersebut dibuka, akan terdapat imago yang berkelompok. Tanaman yang merana tidak akan menghasilkan bunga yang prima. Pada keadaan seperti itu hasil panen dapat dikatakan rusak dan tidak layak untuk dipasarkan. Hama ini juga bertindak sebagai vektor Tomato Spotted Wilt Virus (TSWV). Populasi dan serangan trips biasanya tinggi pada musim kemarau dan menurun pada musim hujan. Serangga dewasa (imago) berukuran sangat kecil dan bertubuh langsing, dengan panjang tubuh 0,5-5,0 mm (beberapa jenis daerah tropika panjangnya hampir 14 mm). Berwarna kuning pucat sampai coklat kehitaman. Imago yang sudah tua berwarna agak kehitaman, berbercak-bercak merah atau bergaris-garis. Imago trips muda berwarna putih atau kekuning-kuningan. Trips berkembang biak secara partenogenesis. Umur stadium serangga dewasa dapat mencapai 20 hari. Telur trips berbentuk oval atau seperti ginjal. Serangga betina dapat bertelur hingga 80 butir dan dapat menetas setelah 3 - 8 hari. Telur biasanya diletakkan pada daun bagian bawah atau di dalam jaringan tanaman secara terpencar. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan/kekuningan. Nimfa instar pertama dan kedua aktif berada di permukaan daun sedangkan instar selanjutnya tidak aktif. Kemungkinan pada saat ini nimfa berada di permukaan tanah. Pupa yang terbungkus kokon terdapat di permukaan bawah daun dan di permukaan tanah di sekitar tanaman. Trips muda yang keluar dari kokon biasanya belum dapat terbang tetapi sudah dapat meloncat. Perkembangan pupa menjadi trips muda akan semakin meningkat pada kelembaban rendah dan suhu lingkungan yang hangat.