Showing posts with label Tanaman Pangan. Show all posts
Showing posts with label Tanaman Pangan. Show all posts

Tuesday, September 5, 2017

Ubi Kayu Berumur Genjah dengan Hasil Pati Tinggi

View Article
POTRET PERTANIAN - Badan Litbang Pertanian melepas varietas UK 1 Agritan pada tahun 2016. UK 1 Agritan merupakan varietas ubi kayu hasil dari persilangan antara tetua betina Malang 1 dengan tetua jantan MlG 10075 tahun 2003. Klon Malang 1 adalah sumber gen hasil tinggi dan umbi yang agak tahan busuk, sedangkan MLG 10075 merupakan sumber gen hasil tinggi dan tahan hama tungau.

Rata-rata hasil umbi varietas UK 1 Agritan di delapan lokasi pengujian adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 30,18 t/ha pada umur 7 bulan, hasil 75 % lebih tinggi dari Adira 1 dan 22 % lebih tinggi dari UJ3. Varietas ini bisa memberikan hasil umbi lebih tinggi dari yang telah dicapai saat ini jika ditanam di lingkungan yang lebih baik dan diberi input (pupuk) tinggi serta dipanen lebih dari 7 bulan. UK 1 Agritan bisa menghasilkan umbi 75 t/ha pada umur 10 bulan di Kalimantan Tengah, tanaman dipupuk dengan 300 kg Urea + 150 kg SP36 + 150 kg KCl/ha.

Sedangkan untuk rata-rata hasil pati varietas UK 1 Agritan pada umur 7 bulan di delapan lokasi penelitian menduduki peringkat pertama yaitu sebesar 6,052 t/ha. Hasil pati tersebut 101% lebih tinggi dari Adira 1, dan 10% lebih tinggi dari UJ3.Varietas UK1 AGRITAN merupakan varietas yang stabil dan beradaptasi baik di semua lingkungan.

Tahun 2016, UK 1 Agritan juga pernah diuji coba di lahan yang banyak mengandung limbah pabrik gula (blothong) pada petak berukuran 25 m2 dengan dosis pupuk 300 kg Urea+ 100 kg SP36 + 100 kg KCl/ha, hasilnya bisa mencapai 40 kg/tanaman umur 8 bulan.

Varietas UK 1 Agritan tergolong agak tahan terhadap penyakit busuk umbi. Busuk umbi merupakan salah satu penyakit ubi kayu, penyakit ini muncul ketika tanaman banyak menerima hujan terutama pada fase pembentukan umbi dan drainase tanah kurang baik. Penyebab penyakit busuk umbi diduga mikroba patogen yang hidup di tanah.(lz)

Saturday, July 22, 2017

Tiga Varietas Baru Padi Gogo Hasil Konsorsium

View Article
POTRET PERTANIAN - Perluasan areal tanam padi di lahan kering saat ini menjadi tumpuan besar pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional. Upaya Pemerintah dalam mendorong perluasan tanam padi di lahan kering ini tentunya perlu didukung dengan tersedianya teknologi budidaya yang prima.

Komponen teknologi utama dalam usaha produksi padi gogo adalah varietas unggul yang adaptif terhadap berbagai permasalahan di lahan kering seperti kekeringan, kemasaman tanah dan penyakit blas. Sehingga, ketersediaan varietas unggul ini menjadi salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi padi gogo nasional.

Sejumlah lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia memberikan perhatian serius dalam program perakitan varietas padi gogo. Untuk mensinergikan penelitian padi gogo lintas lembaga penelitian, pada tahun 2008 Badan Litbang Pertanian membentuk Konsorsium Penelitian Padi Nasional.

Salah satu kegiatan konsorsium adalah melakukan pengujian bersama galur-galur harapan di berbagai daerah. Sejumlah varietas unggul telah berhasil dilepas sejak konsorsium padi nasional dibentuk.

Pada tahun 2017 Konsorsium Padi Nasional kembali berhasil melepas varietas unggul baru (VUB) berupa tiga VUB padi gogo yaitu INPAGO 12 AGRITAN, IPB 9G dan UNSOED PARIMAS. Ketiga varietas tersebut telah melalui pengujian di delapan lokasi lahan kering yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dibawah Badan Litbang Pertanian, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Jenderal Soedirman.

Varietas INPAGO 12 AGRITAN merupakan padi gogo hasil pemuliaan Badan Litbang Pertanian, memiliki potensi hasil yang tinggi yakni sebesar 10.2 ton/ha, rata-rata hasil 6.7 ton/ha, agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al yang menjadi masalah di lahan kering masam, dan tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, serta memiliki tekstur nasi yang agak pulen.

Varietas IPB 9G merupakan padi gogo yang dikembangkan oleh Dr. Hajrial Aswidinnoor bersama tim dari Institut Pertanian Bogor. Varietas tersebut memiliki potensi hasil 9.09 ton/ha, dan rata-rata hasil 6.09 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan memiliki tekstur nasi pulen.

Varietas UNSOED PARIMAS merupakan padi gogo yang dihasilkan oleh Prof. Suwarto dan tim dari Universitas Jenderal Soedirman, memiliki potensi hasil 9.40 ton/ha, rata-rata hasil 6.19 ton/ha, tahan terhadap beberapa ras blas, agak tahan terhadap keracunan Al dan kekeringan, dan tekstur nasinya pulen.

Ketiga varietas baru tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi petani untuk meningkatkan produksi padi di lahan kering.

Kerjasama penelitian Badan Litbang dan lembaga penelitian dan universitas melalui Konsorsium Penelitian Padi Nasional akan terus berlanjut dalam menghasilkan inovasi-inovasi pertanian mendukung tercapainya swasembada beras berkelanjutan.(AH/Shr)

Tuesday, June 20, 2017

Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

View Article
POTRET PERTANIAN -Strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim telah dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Strategi yang dilakukan bersifat langsung (berupa kekeringan dan banjir) maupun yang bersifat tidak langsung berupa meningkatnya populasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Kekeringan dapat memberikan dampak negatif pada semua stadia tumbuh tanaman padi mulai saat vegetatif awal hingga reproduktif. Kekeringan yang terjadi pada fase vegetatif dapat menngganggu proses fotosintesis tanaman padi dan menurunkan laju pertumbuhannya.

Apabila kekeringan hanya terjadi sementara maka pengaruhnya dapat dipulihkan. Berbeda halnya jika kekeringan terjadi pada fase reproduktif, seperti ketika pembungaan dan pengisian gabah, pengaruh stress kekeringan pada fase ini sulit dipulihkan dan dapat berakibat puso atau gagal panen.

Terminologi amfibi digunakan untuk menunjukkan kemampuan tumbuh beberapa varietas padi yang dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lahan kering (gogo) maupun lahan basah (sawah). Varietas padi yang memiliki kemampuan tumbuh di dua kondisi tersebut kemudian disebut sebagai padi amfibi.

Air merupakan salah satu input yang sangat penting bagi sistem produksi padi sawah yang mengkonsumsi air lebih banyak dibandingkan bila ditanam di luar lahan sawah yang tidak selalu digenang. Ketersediaan air tidak hanya mempengaruhi produktivitas tanaman, luas areal tanam dan intensitas pertanaman, melainkan juga berengaruh terhadap potensi perluasan areal baru, bahkan menentukan kualitas produksi gabah.

Belakangan ini ketersediaan air irigasi untuk budidaya padi sawah makin terbatas karena: (1) bertambahnya penggunaan air untuk sektor industri dan rumah tangga, (2) durasi curah hujan makin pendek akibat perubahan iklim, (3) cadangan sumber air lokal juga berkurang, dan (4) terjadinya pendangkalan penampungan kelebihan air run off seperti waduk.

Fenomena kekeringan pada pertanaman padi dapat terjadi akibat intensitas dan atau frekuensi curah hujan yang rendah atau terjadinya hujan yang tidak merata (menyimpang dari pola curah hujan normal), sehingga pasokan air pada stadia vegetatif dan generatif tidak terpenuhi.

Kekeringan pada fase pertumbuhan generatif padi dapat menurunkan hasil 30-90%. Upaya antisipasi dampak buruk tersebut antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan varietas adaptif kekeringan.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan air dari berbagai sektor dan semakin menipisnya persediaan air tanah, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengefisienkan penggunaan air. Artinya air yang ada harus dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai kebutuhan tanaman.

Selama pertanaman padi terdapat tiga fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif (0-60 hari), fase generatif (60-90 hari), dan fase pemasakan (90-120 hari). Kebutuhan air pada ketiga fase tersebut bervariasi, yang tertinggi diantaranya ketika pembentukan anakan aktif, anakan maksimum, inisiasi pembentukan malai, bunting dan pembungaan.

Perlu diingat bahwa varietas unggul merupakan salah satu komponen utama dalam budidaya padi. Sejak terjadinya revolusi hijau peranan varietas telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peningkatan hasil dan keberlanjutan produksi padi dunia dalam menghadapi berbagai kendala lingkungan yang terus mengancam termasuk kekeringan.

Oleh sebab itu, pengunaan varietas unggul yang toleran terhadap kekeringan menjadi salah satu teknologi penting dalam mengantisipasi penurunan produksi padi yang diakibatkan oleh keterbatasan air.

Dukungan teknik budidaya padi yang tepat selain kecocokan varietas diharapkan dapat mengurangi pengaruh negatif kekeringan terhadap produksi padi nasional.

Varietas unggul padi tahan kekeringan dan rendaman
No.

Varietas
Umur
(HSS)
Potensi
Hasil (t/ha)
 Tekstur Nasi
1.
Limboto
125
6,0
Sedang
2.
Batutegi
120
6,0
Pulen
3.
Towuti
115
7,0
Pulen
4.
Situ Patenggang
120
6,0
Sedang
5.
Situ Bagendit
120
6,0
Sedang
6.
Inpari 10 Laeya
112
7,0
Pulen
7.
  Inpago 4
124
6,1
Pulen
8.
  Inpago 5
118
6,2
Sangat pulen
9.
  Inpago 6
118
6,2
Sangat pulen
10.
  Inpago 7
111
7,4
Pulen
11.   
  Inpago 8
119
8,1
Pulen
12.
  Inpago 9
109
8,4
Sedang
13.
  Inpari 38 Agritan
115
8,2
Pulen
14.
  Inpari 39 Agritan
115
8,5
Pulen
 Fenomena banjir sering terjadi di musim hujan pada bulan Oktober-Maret, yang dapat terjadi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi. Strategi antisipasi untuk mengurangi kerusakan tanaman akibat banjir adalah dengan menanam varietas padi yang memiliki gen Sub1, yaitu gen yang mengendalikan toleransi tanaman padi terhadap rendaman terutama pada fase vegetatif. Varietas yang dapat bertahan hidup pada kondisi rendaman selama >10 -15 hari. (Shr)

Aneka Panganan Sehat Dari Ubi Jalar

View Article
POTRET PERTANIAN - Selama ini pemanfaatan ubi jalar masih terbatas pada bentuk makanan tradisional (direbus/digoreng), sehingga citra dan daya saing produknya di pasaran relatif rendah.

Padahal, ubi jalar potensial untuk diolah menjadi beragam produk pangan yang cantik, bergizi, dan relatif sederhana teknologi pengolahannya. Warna daging umbi yang beragam, terutama kuning, jingga (orange), dan ungu merupakan daya tarik tersendiri karena selain tidak perlu menggunakan pewarna sintetis juga bermanfaat bagi kesehatan.

Pigmen kuning/jingga mengandung senyawa beta karoten yang selain berfungsi sebagai provitamin A juga mampu menangkap radikal bebas. Pigmen ungu antosianin memiliki aktivitas antioksidan yang cukup tinggi, sehingga berperan dalam mencegah terjadinya penyakit-penyakit degeneratif, seperti penuaan dini karena kerusakan sel, kanker, dan arteosklerosis.

Antosianin juga memiliki kemampuan sebagai antimutagenik, antikarsinogenik, mencegah gangguan pada fungsi hati, antihipertensi dan antihiperglikemik. Di samping itu, keberadaan serat pangan yang bermanfaat untuk pencernaan dan indeks glisemik ubi jalar yang berkisar antara rendah sampai medium, menambah nilai plus ubi jalar sebagai pangan sehat (fungsional).

Beta 1 dan Beta 2 merupakan varietas unggul ubi jalar yang kaya akan beta karoten (masing-masing 12.032 mg/100 g bobot basah dan 4.629 mg/100 g bb), setara dengan wortel untuk Beta 1 dengan potensi hasil 25−35 t/ha. Varietas Antin 2 dan Antin 3 kaya akan antosianin dengan kandungan 130 mg/100 g dan 150 mg/100 g dan potensi hasil 30−37 t/ha.

Kedua varietas tersebut memiliki kandungan antosianin dan potensi hasil lebih tinggi daripada Ayamurasaki (70 mg/100 g, 15−20 t/ha). Ayamurasaki merupakan varietas introduksi dari Jepang yang telah lebih dulu berkembang di petani Malang, Pasuruan dan sekitarnya.

Varietas-varietas tersebut di atas memiliki warna umbi yang menarik untuk diolah menjadi produk pangan sehingga perlu dikembangkan industri olahan dan budidaya untuk penyediaan bahan baku.

Pasta merupakan salah satu bahan baku asal ubi jalar yang prospektif untuk dikembangkan karena sangat fleksibel dan praktis untuk diolah menjadi berbagai produk pangan, terutama sebagai substitusi terigu. Selain itu, penggunaan pasta relatif lebih menguntungkan daripada tepung ubi jalar karena rendemen pasta dapat mencapai 100%.

Namun, untuk pembuatan pasta diperlukan ketersediaan bahan baku ubi jalar segar karena tidak tahan lama disimpan. Pasta ubi jalar disiapkan dengan cara memilih umbi yang baik (tidak terserang hama boleng/busuk), dicuci, lalu dikukus, dibuang kulitnya dan dihaluskan lalu dikemas dan dapat disimpan dalam freezer sampai 1 bulan.

Berbagai produk makanan dapat diolah dari pasta ubi jalar. Pasta ubi jalar 100% dapat digunakan untuk jus dan 50−100% untuk es krim. Kue basah/jajanan seperti onde-onde, puding, martabak manis, dan roti gulung dapat dibuat menggunakan pasta ubi jalar dengan proporsi 30−100%. Mie basah/kering dibuat dengan 40% pasta dan 50−100% selai, 40−50% untuk cake, brownies dan muffin.

Produk-produk tersebut tidak kalah penampilan dan rasanya dibandingkan dengan produk yang diolah dari 100% terigu. Impor gandum saat ini telah mencapai 7 juta ton per tahun, sehingga pemanfaatan pasta ubi jalar tersebut berpeluang untuk mengurangi penggunaan terigu sekaligus mendukung program diversifikasi pangan berbasis bahan pangan lokal. (fzp)