Showing posts with label Budidaya Tanaman. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Tanaman. Show all posts

Wednesday, October 18, 2017

Jarak Tanam Menentukan Jumlah Populasi

View Article
POTRET PERTANIAN - Upaya peningkatan produktivitas padi dengan hanya menggunakan varietas unggul berdaya hasil tinggi tidak akan efektif tanpa diikuti oleh teknik budi daya spesifik lokasi, terutama pengaturan jarak tanam yang optimal.

Perbedaan jarak tanam sering kali tidak mendapat perhatian dalam cara menentukan produktivitas padi berdasarkan ubinan.

Jarak tanam yang menentukan populasi tanaman per satuan luas bervariasi antarpetani dan antarlokasi. Hal ini dapat menyebabkan dugaan produktivitas padi per satuan luas menjadi tidak akurat.

Kesalahan dalam pendugaan hasil padi per satuan luas berdampak terhadap kesalahan data produksi nasional. Oleh karena itu, diperlukan standarisasi ubinan, pengukuran populasi tanaman (jumlah rumpun) per satuan luas, dan konversi gabah hasil dari ubinan ke hektar berdasarkan jarak tanam padi di lapangan.

Produksi padi ditentukan oleh berbagai aspek, termasuk jarak tanam yang menentukan populasi tanaman di lapangan. Jarak tanam dan populasi tanaman mempengaruhi penangkapan radiasi surya oleh individu tanaman, terutama daun untuk fotosintesis, efektivitas penyerapan hara oleh akar tanaman, kebutuhan air tanaman, sirkulasi udara terutama CO2 untuk fotosintesis dan O2 untuk hasil fotosintesis, ketersediaan ruang yang menentukan populasi gulma, dan iklim mikro (kelembaban dan suhu udara) di bawah kanopi, yang juga berpengaruh terhadap perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Keenam faktor tersebut berpengaruh terhadap kualitas pertumbuhan individu rumpun tanaman padi. Kombinasi antara pertimbangan ilmiah untuk mencapai hasil terbaik/tertinggi dan pertimbangan teknis (mudah, murah, dan sesuai keinginan petani) menyebabkan terjadinya keragaman penerapan jarak tanam di lapangan.

Pengalaman menunjukkan adanya berbagai jarak tanam padi, mulai dari tegel 20 cm x 20 cm; 25 cm x 25 cm; 27,5 cm x 27,5 cm; dan 30 cm x 30 cm hingga sistem jajar legowo.

Tanam jajar legowo merupakan salah satu cara untuk meningkatkan populasi tanaman dan cukup efektif mengurangi serangan hama tikus, keong mas, dan keracunan besi. Jajar legowo (legowo/jarwo) adalah pengosongan satu baris tanaman setiap dua atau lebih baris dan merapatkan dalam barisan tanaman, sehingga dikenal legowo 2:1 apabila satu baris kosong diselingi oleh dua baris tanaman padi atau 4:1 bila diselingi empat baris tanaman. (Shr)

jaraktanam-berita
Lampiran
Berita-Jarak-Tanam: Berita-jarak-tanam.docx (748,5 KB)
Links Website

Puslit/Balai Besar
Balit
BPTP
Program/Komisi
Media Pertanian OnLine
Kementerian Pertanian
PT. RPN
Lainnya
e-Layanan
e-Produk
Uji Mekanisasi Pertanian
SePP Deptan
e-Katalog
Interaktif
Tanya Jawab
Database
Plasmanutfah
Kerjasama Litbang
Pangkalan Data P4MI
Highlight
WBK Kementerian Pertanian

Aplikasi Balitbangtan

Decision Support System untuk Pertanian Lahan Rawa

Pertanian Lahan Rawa

Publikasi Buku

Kalender Tanam Terpadu

Sustainable Management of Agricultural Research and Technology Dissemination (SMARTD) Project

Tuesday, September 5, 2017

Ubi Kayu Berumur Genjah dengan Hasil Pati Tinggi

View Article
POTRET PERTANIAN - Badan Litbang Pertanian melepas varietas UK 1 Agritan pada tahun 2016. UK 1 Agritan merupakan varietas ubi kayu hasil dari persilangan antara tetua betina Malang 1 dengan tetua jantan MlG 10075 tahun 2003. Klon Malang 1 adalah sumber gen hasil tinggi dan umbi yang agak tahan busuk, sedangkan MLG 10075 merupakan sumber gen hasil tinggi dan tahan hama tungau.

Rata-rata hasil umbi varietas UK 1 Agritan di delapan lokasi pengujian adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 30,18 t/ha pada umur 7 bulan, hasil 75 % lebih tinggi dari Adira 1 dan 22 % lebih tinggi dari UJ3. Varietas ini bisa memberikan hasil umbi lebih tinggi dari yang telah dicapai saat ini jika ditanam di lingkungan yang lebih baik dan diberi input (pupuk) tinggi serta dipanen lebih dari 7 bulan. UK 1 Agritan bisa menghasilkan umbi 75 t/ha pada umur 10 bulan di Kalimantan Tengah, tanaman dipupuk dengan 300 kg Urea + 150 kg SP36 + 150 kg KCl/ha.

Sedangkan untuk rata-rata hasil pati varietas UK 1 Agritan pada umur 7 bulan di delapan lokasi penelitian menduduki peringkat pertama yaitu sebesar 6,052 t/ha. Hasil pati tersebut 101% lebih tinggi dari Adira 1, dan 10% lebih tinggi dari UJ3.Varietas UK1 AGRITAN merupakan varietas yang stabil dan beradaptasi baik di semua lingkungan.

Tahun 2016, UK 1 Agritan juga pernah diuji coba di lahan yang banyak mengandung limbah pabrik gula (blothong) pada petak berukuran 25 m2 dengan dosis pupuk 300 kg Urea+ 100 kg SP36 + 100 kg KCl/ha, hasilnya bisa mencapai 40 kg/tanaman umur 8 bulan.

Varietas UK 1 Agritan tergolong agak tahan terhadap penyakit busuk umbi. Busuk umbi merupakan salah satu penyakit ubi kayu, penyakit ini muncul ketika tanaman banyak menerima hujan terutama pada fase pembentukan umbi dan drainase tanah kurang baik. Penyebab penyakit busuk umbi diduga mikroba patogen yang hidup di tanah.(lz)

Tuesday, June 20, 2017

Padi Amfibi Solusi Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

View Article
POTRET PERTANIAN -Strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim telah dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Strategi yang dilakukan bersifat langsung (berupa kekeringan dan banjir) maupun yang bersifat tidak langsung berupa meningkatnya populasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Kekeringan dapat memberikan dampak negatif pada semua stadia tumbuh tanaman padi mulai saat vegetatif awal hingga reproduktif. Kekeringan yang terjadi pada fase vegetatif dapat menngganggu proses fotosintesis tanaman padi dan menurunkan laju pertumbuhannya.

Apabila kekeringan hanya terjadi sementara maka pengaruhnya dapat dipulihkan. Berbeda halnya jika kekeringan terjadi pada fase reproduktif, seperti ketika pembungaan dan pengisian gabah, pengaruh stress kekeringan pada fase ini sulit dipulihkan dan dapat berakibat puso atau gagal panen.

Terminologi amfibi digunakan untuk menunjukkan kemampuan tumbuh beberapa varietas padi yang dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi lahan kering (gogo) maupun lahan basah (sawah). Varietas padi yang memiliki kemampuan tumbuh di dua kondisi tersebut kemudian disebut sebagai padi amfibi.

Air merupakan salah satu input yang sangat penting bagi sistem produksi padi sawah yang mengkonsumsi air lebih banyak dibandingkan bila ditanam di luar lahan sawah yang tidak selalu digenang. Ketersediaan air tidak hanya mempengaruhi produktivitas tanaman, luas areal tanam dan intensitas pertanaman, melainkan juga berengaruh terhadap potensi perluasan areal baru, bahkan menentukan kualitas produksi gabah.

Belakangan ini ketersediaan air irigasi untuk budidaya padi sawah makin terbatas karena: (1) bertambahnya penggunaan air untuk sektor industri dan rumah tangga, (2) durasi curah hujan makin pendek akibat perubahan iklim, (3) cadangan sumber air lokal juga berkurang, dan (4) terjadinya pendangkalan penampungan kelebihan air run off seperti waduk.

Fenomena kekeringan pada pertanaman padi dapat terjadi akibat intensitas dan atau frekuensi curah hujan yang rendah atau terjadinya hujan yang tidak merata (menyimpang dari pola curah hujan normal), sehingga pasokan air pada stadia vegetatif dan generatif tidak terpenuhi.

Kekeringan pada fase pertumbuhan generatif padi dapat menurunkan hasil 30-90%. Upaya antisipasi dampak buruk tersebut antara lain dapat dilakukan melalui pengembangan varietas adaptif kekeringan.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan air dari berbagai sektor dan semakin menipisnya persediaan air tanah, maka upaya yang harus dilakukan adalah mengefisienkan penggunaan air. Artinya air yang ada harus dimanfaatkan seoptimal mungkin sesuai kebutuhan tanaman.

Selama pertanaman padi terdapat tiga fase pertumbuhan, yaitu fase vegetatif (0-60 hari), fase generatif (60-90 hari), dan fase pemasakan (90-120 hari). Kebutuhan air pada ketiga fase tersebut bervariasi, yang tertinggi diantaranya ketika pembentukan anakan aktif, anakan maksimum, inisiasi pembentukan malai, bunting dan pembungaan.

Perlu diingat bahwa varietas unggul merupakan salah satu komponen utama dalam budidaya padi. Sejak terjadinya revolusi hijau peranan varietas telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan terhadap peningkatan hasil dan keberlanjutan produksi padi dunia dalam menghadapi berbagai kendala lingkungan yang terus mengancam termasuk kekeringan.

Oleh sebab itu, pengunaan varietas unggul yang toleran terhadap kekeringan menjadi salah satu teknologi penting dalam mengantisipasi penurunan produksi padi yang diakibatkan oleh keterbatasan air.

Dukungan teknik budidaya padi yang tepat selain kecocokan varietas diharapkan dapat mengurangi pengaruh negatif kekeringan terhadap produksi padi nasional.

Varietas unggul padi tahan kekeringan dan rendaman
No.

Varietas
Umur
(HSS)
Potensi
Hasil (t/ha)
 Tekstur Nasi
1.
Limboto
125
6,0
Sedang
2.
Batutegi
120
6,0
Pulen
3.
Towuti
115
7,0
Pulen
4.
Situ Patenggang
120
6,0
Sedang
5.
Situ Bagendit
120
6,0
Sedang
6.
Inpari 10 Laeya
112
7,0
Pulen
7.
  Inpago 4
124
6,1
Pulen
8.
  Inpago 5
118
6,2
Sangat pulen
9.
  Inpago 6
118
6,2
Sangat pulen
10.
  Inpago 7
111
7,4
Pulen
11.   
  Inpago 8
119
8,1
Pulen
12.
  Inpago 9
109
8,4
Sedang
13.
  Inpari 38 Agritan
115
8,2
Pulen
14.
  Inpari 39 Agritan
115
8,5
Pulen
 Fenomena banjir sering terjadi di musim hujan pada bulan Oktober-Maret, yang dapat terjadi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi. Strategi antisipasi untuk mengurangi kerusakan tanaman akibat banjir adalah dengan menanam varietas padi yang memiliki gen Sub1, yaitu gen yang mengendalikan toleransi tanaman padi terhadap rendaman terutama pada fase vegetatif. Varietas yang dapat bertahan hidup pada kondisi rendaman selama >10 -15 hari. (Shr)

Monday, March 6, 2017

Perlindungan Tanaman Cabe Saat Musim Hujan

View Article
Potret Pertanian -Sahabat Petani dimanapun berada, Saya mengucapkan ribuan terimakasih atas kunjungannya selama ini di website sederhana yang saya bangun pada 2009 silam, keberadaan Potret Pertanian hingga saat ini tidak luput dari sahabat semua yang senantiasa berkunjung kesini. 

Sahabat Para Petani dimanapun berada saat ini kondisi alam sedang tidak bersahabat, pasalnya curah hujan yang tinggi yang membuat kelembapan tanah semakin tinggi, sehingga membuat OPT semakin berkembang cepat yang akan membuat produksi dan kualitas hasil tanaman yang kita budidayakan dapat menurun, tak sedikit terjadinya gagal panen akibat curah hujan yang tinggi. 

Dengan demikian kita sebagai petani harus bertindak secepatnya untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan yang akan diakibatkan curah hujan yang tinggi tersebut. Nah berikut beberapa tips untuk persiapan mengatasi dan melindungi tanaman pada musim hujan, Tips ini berdasarkan pengalaman saya selama dilapangan menjadi sahabat petani diberbagai daerah Di Sumatera. Nah buat sahabat Potret yang berada di pulau jawa, saya rasa tips yang akan saya sampaikan juga bisa diaplikasikan disana, sekalipun saya belum pernah mencobanya di tanah jawa, tapi pada dasarnya OPT yang datang dan menggangu dimusim tersebut masih tergolong sama. 

Pada Curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan kadar Nitrogen yang berlebih pada Tanaman, sehingga membuat kondisi daun dan batang tanaman ataupun buah akan lebih tipis, dalam kondisi tersebut OPT akan dengan mudah menyerang dalam kondisi tersebut, selain pada kondisi lokasi yang lembab Fungi atau jamur akan lebih cepat menyerang tanaman. ditambah dengan kondisi tanaman yang kelebihan unsur nitrogen yang diakibatkan curah hujan yang tinggi, maka tanaman akan menjadi mudah terserang Penyakit dan perkembangannya akan cepat dibandingkan pada musim kemarau.

Pada kondisi seperti ini, sebaiknya segera lakukan langkah preventif untuk mencegah segala kemungkinan yang akan terjadi. dengan langkah-lankah sebagai berikut.
  • Saat curah hujan tinggi biasanya akan terjadi kerontokan pada bunga, daun akan sedikit menguning akibat kelebihan Nitrogen, jika tanaman sudah cabe seadang berbuah lebat buah akan tampak menguning dan rontok, parahnya akan terjadibusuk buah yang disebabkan oleh bakteri antraknose, serta jamur yang menyerang pada buah cabe.
  • Langkah yang harus diambil, untuk mengendalikan segala bentuk penyakit tanaman yang datang dan akan menggangu jalanya proses produksi. untuk mengantisipasi kerontokan bunga dan buah, segera lakukan penambahan unsur hara atau pupuk dengan kanduungan unsur Calsium dan Magnesium. yang bertujuan untuk menambah klorofil daun, serta meningkatkan kekebalan tanaman dengan memperkuat sel-sel tanaman yang bergerak abnormal karena kandungan nitrogen yang berlebihan. baik pada daun bunga dan buah pada tanaman.
  • Selanjutnya pada kondisi ini pertumbuhan Jamur lebih cepat, mulai dari Pytptora, Fusarium, Altenaria pori dan yang lainya. yang akan membuat tanaman kita mengalami busuk yang akan terjadi pada tanaman, baik daun, batang, buah bahkan akar tanaman. Langkah yang harus segera diambil adalah dengan menggunakan Fungisida dengan bahan aktif yang kuat, contohnya untuk mencegah terjadinya Antraknose Pytoptora dan Fusarium, anda dapat menggunakan Fungisida dengan bahan aktif Tembaga Hydroxida, Tapi dalam penggunaan Fungisida ini jangan dicampur menggunakan insektisdia lain, karena akan berakibat kerusukan pada tanaman. terlebih jika jenis fungisida Tembaga Hidroxida kita campur dengan Fungi yang berbahan aktif Mankozeb, akan terjadi pembakaran pada permukaan daun. bagusnya Fungisida ini diaplikasikan tunggal. dengan durasi penyemprotan disesuikan pada daerah masing masing.
  • yang terahir adalah membersihkan lahan pertanaman dari kotoran, misalkan duan kering, gulma, yang intinya kondisi pertanaman harus bersih dari berbagai  kotoran bekas gulma atau daun kering yang akan membusuk serta mengundang spora jamur untuk datang. selanjutnya usahakan jangan sampai ada genangan air, yang akan membuat lahan semakin lembab dan akan menyebabkan jamur fusarium berkembang.
Demikian sedikit tips dari saya semoga bermanfaat, selain tips diatas, lakukanlah pemupukan yang seimbang dengan memperhatikan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman, kebutuhan unsur Makro dan Mikro harus seimbang untuk membuat tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan marfologinya.