Showing posts with label Pupuk. Show all posts
Showing posts with label Pupuk. Show all posts

Wednesday, October 18, 2017

Memanfaatan Sabut Kelapa sebagai Sumber Kalium Organik

View Article
POTRET PERTANIAN - Produksi buah kelapa Indonesia rata-rata 15,5 miliar butir/tahun, setara 3,02 juta ton kopra, 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut. Sabut kelapa merupakan hasil samping dari buah kelapa yang berpotensi cukup besar. Saat ini pemanfaatannya masih sebatas untuk kerajinan, bahan bakar dan media tanam.

Sabut kelapa memiliki ketebalan berkisar 5-6 cm yang terdiri atas lapisan luar dan lapisan dalam. Koposisi kimia sabut kelapa antara lain selulosa, lignin, pyroligeous acid, gas, arang, ter, tannin dan potassium. Satu butir kelapa menghasilkan 0,4 kg sabut yang mengandung 30% serat yang kaya unsur.

Sabut kelapa mengandung unsur kalium sebesar 10,25%, sehingga dapat menjadi alternatif sumber kalium organik untuk menggantikan pupuk KCl. Selain digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik, sabut kelapa juga digunakan sebagai media tanam dan pembuatan agar-agar kertas. unsur hara seperti Ca, Mg, K, Na dan P yang sesuai digunakan sebagai pupuk organik. Sabut kelapa sebagai media tanam mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, aerasi dan drainase yang baik, sesuai dengan daerah panas dan mengadung unsur-unsur hara esensial.

Debu sabut juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk organik. Debu sabut merupakan hasil samping pada proses penyeratan sabut. Debu sabut mengandung berbagai unsur hara N, P, K, Ca, Mg, Na, Fe, Mn, Cu, Zn dan Al. Pemanfaatannya melalui proses pengomposan untuk menurunkan kadar senyawa fenolik dan tannin dalam debu sabut.(Bur)

Sunday, April 9, 2017

KARTU TANI

View Article
Potret Pertanian - Kartu tani adalah kartu sakti yang akan di miliki semu petani yang ada di seluruh jawa tengah yang di idekan oleh Gubernu Ganjar Pranowo untuk menghindari kecurangan penyaluran pupuk bersubsidi yang di salurkan oleh pemerintah untuk para petani, sehingga pupuk bersubsidi ini bisa tepat sasaran dan tepat guna, sudah bukan rahasia lagi kalau sekarang banyak kasus penyaluran pupuk bersubsidi ini banyak yang di selewengkan penyaluranya oleh para distributor dan para tengkulak, sehingga harga pupuk sangat melambung tinggi di pasaran, dan bahkan sampai mengalapi kelangkaan pupuk di pasaran, sehingga para petani sangat susah untuk mencukupi kebutuhan bembelian pupuk untuk tanaman mereka. bermula dari sini lah muncul pemikiran dari bapak Guburnur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk memberikan solusi untuk penyaluran pupuk bersubsidi agar tepat sasaran dalam penyaluranya.

Kartu tani tersebut merupakan kartu yang diterbitkan oleh Bank BRI yang memuat data petani sekaligus dapat bermanfaat sebagai kartu debit (ATM). Data – data yang ada dalam kartu tersebut antara lain berisi nama, alamat, data lahan serta komoditas. Manfaat kartu ini bagi pemerintah antara lain akan lebih mudah dalam memantau distribusi pupuk bersubsidi, agar lebih merata dan tepat sasaran.

Sementara bagi petani, kartu ini bermanfaat sebagai jaminan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi secara tepat waktu sesuai dengan masa tanam karena data yang ada dalam kartu tersebut telah jelas,  selain itu memberikan edukasi perbankan. Disamping itu pemegang kartu tani juga akan mendapatkan kemudahan jasa layanan perbankan baik simpanan atau pinjaman di Bank BRI.

Kartu Tani Langkah Pemberian Pupuk Subsidi

View Article
Potret Pertanian - Prasetyo. Pupuk bersubsidi yang selama ini diberikan oleh pemerintan kepada Petani dengan harapan petani dapatkan harga subsidi sehingga akan menekan biaya usaha tani yang dilakukan oleh para petani, baik petani hrtikultura, pangan dan perkebunan diseluruh Indonesia. 

Berbagai langkah dilakukan oleh pemerintah dalam melakukan penyaluran pupuk hingga sampai ditangan petani yang bersangkutan dan mendapatkan hak atas pupuk bersubsidi pemerintah tersebut. akan tetapi dalam keadaan seperti masih ada saja yang bermin untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga yang sangat tinggi dibandingkan dengan pupuk Non Subsidi. sehingga membuat ijo mata para distributor nakal dan para pengecer nakal diberbagai daerah penyaluran.

Memang dalam hal ini untuk mengurangi tingkat kejahatan pupuk subsidi tersebut diperlukan langkah-langkah yang tepat, sehingga program tersebut tapat sasaran. Saya Penulis pernah menjadi Distributor Pupuk Subsidi Pemerintah di Propinsi Sumatera barat, utuk daerah penyaluran Pesisir selatan. saya menilai masih banyak harus diperbaharui dari sistem penyaluran yang ada selama ini, masih banyak sekali masarakat yang tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan, masih banyak sekali Petani tidak dapt merasakan atau mendapatkan pupuk bersubsidi sedangkan pupuk subsidi yang disalurkan sudah sesuai dengan RDKK, lalu dimana kesalahanya. Tapi kali ini  saya tidak akan membahas permasalah yang terjadi pada tingkat Distributor dan Pengecer, yang akan kita buka secara blak-blakan bagaimana dan seperti ap permainan yang terjadi dilapangan dalam mpenyaluran pupuk tersebut.

Intinya memang pemerintah harus bekerja dengan keras dalam menciptkan sistim dalam penyaluran barang subsidi pupuk tersebut. Seperti yang saya kutip dari situs pertani AGRO INDONESIA '' Kementerian Pertanian menegaskan tidak ada rencana pemerintah melakukan pencabutan subsidi pupuk mulai 2018. Namun, pemerintah memang sedang mengkaji perubahan skema penyaluran pupuk bersubsidi, yang kemungkinan tidak lagi melalui gabungan kelompok tani (gapoktan) dan dinas teknis, tapi langsung diberikan ke petani melalui Kartu Tani" 

Cara ini saya rasa akan banyak mengurangi kecurangan yang ada di lapangan dalam rangka penyalurn pupuk bersubsidi, Kementan sendiri sedang mengujicoba penggunaan Kartu Tani untuk memberi subsidi langsung ke petani, tanpa harus lewat gabungan kelompok tani (gapoktan). Kartu ini multifungsi karena memuat identitas petani, luas lahan yang dimiliki, informasi panen, kebutuhan sarana produksi pertanian (saprotan), sekaligus menjadi kartu debit untuk penerimaan tabungan, pinjaman, subsidi maupun bantuan.

Untuk uji coba tersebut Kementan akan mengeluarkan Kartu Tani ini sebanyak 1,2 juta Kartu Tani sudah diberikan ke petani dalam ujicoba di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bekerjasama dengan Pemda Provinsi Jateng dan BRI. Sementara di Bojonegoro bekerjasama dengan BNI akan diserahkan 1 juta kartu.

Semoga saja pprogram ini akan berjalan lancar dan dapat dinikmati oleh para petani, sehingga tak ada lagi penyelewengan yang akan terjadi oleh para distributor jahil yang mengeruk keuntungan dari hak Rakyat kecil yang disebut Petani. Mari bersama kita ikut serta memantau jalanya program tersebut sehingga tepat sasaran kepada yang berhak untuk mendapatkan.

Tuesday, March 7, 2017

Pupuk Organik Dari Alam Kembali Kealam

View Article
Potret Pertanian - Pupuk Organik Merupakan pupuk yang terbentuk secara alami dengn bantuan  mikro organisme yang ada didalam tanah, secara alami pupuk ini terbentuk tanpa bantuan dari tangan manusia, seiring kemajuan teknologi dibidang pertanian pupuk organik saat ini telah bisa dibuat dengan cepat dengan proses yang lebih singkat dengan menggunakan teknologi - teknologi yang banyak dikembangkan oleh insan pertanian yang terus berkarya dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas hasil-hasil pertanian.

Sejarah penggunaan pupuk organik pada dasarnya merupakan bagian dari sejarah pertanian. Penggunaan pupuk organik  diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, yaitu sekitar 5.000 tahun yang lalu. Bentuk primitif dari penggunaan pupuk dalam memperbaiki kesuburan tanah dimulai dari kebudayaan tua manusia di daerah aliran sungai-sungai Nil, Efrat, Indus, Cina, dan Amerika Latin.

Lahan-lahan pertanian yang terletak di sekitar aliran-aliran sungai tersebut sangat subur karena menerima endapan lumpur yang kaya hara melalui banjir yang terjadi setiap tahun. Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal para petani. Penduduk Indonesia sudah mengenal pupuk organik sebelum diterapkannya revolusi hijau di Indonesia.

Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganya pun relatif murah dan mudah diperoleh.  Kebanyakan petani sudah sangat tergantung pada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian.

Tumbuhnya kesadaran para petani akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik.

Pupuk organik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Lebih rincinya pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Pupuk organik mengandung banyak bahan organik daripada kadar haranya. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano.

Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa diantaranya  juga mengelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik.

Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.

Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota (sampah).

Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain. Namun, kandungan hara tersebut rendah.

Orang sering kali menghitung kebutuhan pupuk organik berdasarkan kandungan haranya saja. Kandungan hara pupuk organik disetarakan dengan kandungan hara dari pupuk kimia yang biasa digunakan. Akibatnya kebutuhan pupuk organik jadi berlipat-lipat dibandingkan dengan dosis pupuk kimia. Sebagai contoh kompos dengan kandungan sebagai berikut: 2.79 % N, 0.52 % P2O5, 2.29 % K2O. Maka dalam 1000 kg (1 ton) kompos akan setara dengan 62 kg Urea, 14.44 kg SP 36, dan 38.17 kg MOP.

Misalkan padi biasanya diberi pupuk kimia dengan dosis 200 kg Urea,100 kg SP-36, dan 150kg MOP/KCl. Agar haranya sama maka kompos yang diperlukan kurang lebih sebanyak 7 ton. Dosis yang besar ini akan berimplikasi langsung terhadap biaya pemupukan. Jika dihitung biaya pemupukan dengan pupuk organik/kompos jauh lebih besar daripada biaya pemupukan dengan pupuk kimia. Namun hasil pertumbuhan tanaman dan panen jauh lebih baik dan menyehatkan. (ybh)