Showing posts with label Jurnal Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Jurnal Pertanian. Show all posts

Saturday, April 29, 2017

Jurnal Perbanyakan Lisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn Secara In Vitro Menggunakan Kuncup Bunga sebagai Sumber Eksplan

View Article
POTRET PERTANIAN - Lisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn merupakan tanaman hias bernilai ekonomi tinggi. Pengembangan jenis tanaman ini terkendala oleh keterbatasan benih bermutu. Penyediaan benih bermutu melalui pemanfaatan kuncup bunga pada kultur in vitro lisianthus dilakukan dalam penelitian. Penelitian bertujuan mendapatkan teknologi perbanyakan lisianthus menggunakan kuncup bunga. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung pada Januari hingga Desember 2013. Penelitian ini menggunakan E. grandiflorum klon 05 NK-70 dengan sumber eksplan kelopak bunga, mahkota, kepala sari, ovarium, dan penyangga bunga. Penelitian terdiri atas empat percobaan, yaitu Percobaan 1, eksplan diinisiasi pada media Murashige & Skoog (MS), MS +0,2 mg/l benzylaminopurin (BAP) + 0,02 mg/l asam naftalen asetat (NAA), MS+0,5 mg/l BAP + 1,5 mg/l thidiazuron (TDZ) dan MS+0,25 mg/l BAP. Percobaan 2, tunas hasil inisiasi diperbanyak pada media MS dan MS + 0,2 mg/ l BAP +0,02 mg/l NAA. Percobaan 3, pencegahan roset pada planlet dengan aplikasi media MS +  0,1–10 mg/l asam giberelin (GA3). Percobaan 4, induksi perakaran menggunakan media MS + 0,1–0,5 mg/l asam asetat-3-indol (IAA) tanpa atau ditambah 1 g/l arang aktif. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 3–4 ulangan. Hasil  penelitian ini menunjukkan bahwa penyangga bunga merupakan eksplan paling responsif dalam inisiasi tunas dan perbanyakan tunas pada media MS + 0,2 mg/l BAP + 0,02 mg/l NAA. Sementara media MS +7 mg/l GA3 sesuai untuk mencegah roset dan media MS +0,5 mg/l IAA + 1 g/l arang aktif sesuai untuk pengakaran tunas. Planlet diaklimatisasi menggunakan campuran arang sekam dan cocopeat dengan tingkat keberhasilan mencapai 80–100%.

Kata kunci: Lisianthus [Eustoma grandiflorum (Raf.)] Shinn; Benih bermutu; Kuncup bunga; In vitro; Perbanyakan
 
Tahun : 2016Penulis : Herni Shintiavira dan Budi Winarto
Selengkapnya silahkan Klik tautan Download dibawah ini
ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3550/3011
 

Jurnal Analisis Fenotipik Progeni Tiga Galur Tomat Transgenik Partenokarpi di Fasilitas Uji Terbatas

View Article
POTRET PERTANIAN - Kebutuhan masyarakat akan buah tomat konsumsi dan untuk industri cenderung kian meningkat setiap tahunnya, sedangkan produksi tomat masih rendah. Hingga kini, produksi tomat nasional masih sangat rendah,yaitu 992.780 ton sehingga belum mencukupi kebutuhan pasar yang mencapai 1.230.000 ton. Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi tomat, tetapi masih menemui beberapa masalah di lapangan. Perakitan varietas unggul tomat produktivitas tinggi dan tanpa biji (seedless) sangatlah diharapkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri. Partenokarpi merupakan fenomena terjadinya pembentukan buah tanpa melalui proses penyerbukan dan atau pembuahan. Teknologi partenokarpi dapat digunakan untuk meningkatkan produksi tomat melalui peningkatan pembentukan buah (fruits setting) dan buah tanpa biji. Perakitan galur tomat partenokarpi melalui rekayasa genetik telah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen). Enam puluh galur (event) tomat transgenik T0 yang membawa gen DefH9-iaaM  telah dihasilkan dan tiga galur di antaranya, yaitu OvR#14-4, OvM2#10-1, dan OvM2#6-2 telah terpilih sebagai galur terbaik berdasarkan karakter partenokarpinya. Galur tomat transgenik ini selanjutnya dievaluasi lebih lanjut  secara molekuler dan fenotipik di rumah kaca dan rumah kasa fasilitas uji terbatas (FUT). Hasil analisis molekuler menunjukkan bahwa semua galur tomat transgenik yang diuji masih membawa gen DefH9-iaaM. Hasil evaluasi awal terhadap tiga galur tomat transgenik secara fenotipik juga menunjukkan sifat partenokarpi, yaitu meningkatnya jumlah buah, berat buah, dan berkurangnya jumlah biji (seedless). Analisis fenotipik lebih lanjut terhadap progeni ketiga galur tersebut pada percobaan ini menunjukkan adanya ekspresi fenotipik dari gen DefH9-iaaM, di mana galur OvR#14-4 memiliki ekspresi fenotipik partenokarpi lebih baik daripada galur OvM2#10-1 dan OvM2#6-2. 

Kata kunci: Tomat; Rekayasa genetik; Gen partenokarpi; Galur transgenik; Analisis fenotipik

Tahun : 2016Penulis : Saptowo Jumali Pardal, Ragapadmi Purnamaningsih, Endang Gati Lestari, dan Slamet
Lebih lengkapnya silahkan klik Download tautan dibawah ini.
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3235/2998

Analisis Lokus dan Keragaman Sumber Daya Genetik Durian (Durio sp.) Berdasarkan Marka Mikrosatelit

View Article
POTRET PERTANIAN - Durian merupakan salah satu tanaman buah asli Indonesia dengan tingkat keragaman genetik yang tinggi. Informasi keragaman genetik durian diperlukan untuk mendukung kegiatan perbaikan varietas. Penelitian ini bertujuan mempelajari karakteristik 10 lokus mikrosatelit dan keragaman genetik tujuh populasi durian menggunakan marka mikrosatelit. DNA genom durian diisolasi dari sampel daun muda menggunakan protokol berbasis CTAB. Amplifikasi lokus mikrosatelit menggunakan teknik PCR berlabel fluorescent 6-FAM dan HEX. Analisis data dilakukan menggunakan program Genemarker 2.4.0, GenAlex 6.5, dan Cervus 3.0.3. Hasil analisis menunjukkan bahwa 10 lokus mikrosatelit yang diuji memiliki polimorfisme dan tingkat informatifitas beragam dari tingkat rendah sampai tinggi. Dua lokus DzMTa005 dan DzMTa006 memiliki nilai PIC yang tinggi sehingga keduanya berpotensi sebagai penanda molekuler yang informatif. Analisis PCO secara intra-populasi menunjukkan distribusi alel cukup merata di antara 94 SDG durian yang digunakan. Sebaliknya, secara inter-populasi menunjukkan variasi genetik yang cukup tinggi, dan membuktikan bahwa Kalimantan sebagai pusat asal durian yang kemudian menyebar pada wilayah lainnya.

Kata kunci: Durian; Marka mikrosatelit; Keragaman genetik; Durio sp.

Tahun : 2016Penulis : Panca Jarot Santoso1), Andisa Granitia2), Ni Luh Putu Indriyani1), dan Adi Pancoro2)
Selengkap nya silahkan klik tautan download Berikut
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3240/3004

Jurnal Evaluasi Nilai Heterosis dan Heterobeltiosis Beberapa Persilangan Mentimun (Cucumis sativus L.) pada Berbagai Altitud

View Article
POTRET PERTANIAN - Pemanfaatan efek heterosis dalam perakitan varietas hibrida sering dilakukan untuk meningkatkan produksi hasil pertanian. Identifikasi ekspresi heterosis dan heterobeltiosis dari suatu persilangan perlu dilakukan karena tidak semua persilangan memberikan efek heterosis dan heterobeltiosis yang dikehendaki. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kombinasi persilangan yang menunjukkan nilai heterosis dan heterobeltiosis terbaik untuk karakter kegenjahan, agronomi, dan daya hasil. Evaluasi nilai heterosis dan heterobeltiosis dilakukan terhadap 10 kombinasi persilangan dan lima galur tetua di dua lokasi dengan altitud yang berbeda (100 m dpl dan 1.250 m dpl). Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah ruas, jumlah cabang, umur panen pertama, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman, berat per buah, panjang buah, dan diameter buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan yang berumur genjah dengan nilai heterosis dan heterobeltiosis negatif dihasilkan oleh persilangan P2 x P5. Kombinasi persilangan yang memiliki potensi produksi tinggi dengan nilai heterosis dan heterobeltiosis positif dan tinggi di dataran tinggi maupun rendah dihasilkan oleh P2 x P5. Persilangan yang memiliki efek heterosis dan heterobeltiosis tinggi untuk beberapa karakter di dataran tinggi dihasilkan oleh P1 x P2. Persilangan yang memiliki efek heterosis dan heterobeltiosis tinggi untuk karakter agronomi di dataran rendah ialah P3 x P4. Ketiga persilangan tersebut dapat diuji lebih lanjut untuk menghasilkan varietas hibrida berumur genjah, karakter agronomi baik, dan produktivitas tinggi.


Kata kunci: Cucumis sativus; Heterosis; Heterobeltiosis; Persilangan dialel

Tahun : 2016Penulis : Gungun Wiguna dan Uun Sumpena
Selengkap nya silahkan klik taiutan Download dibawah ini
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3225/2996

Jurnal Keragaman Sebelas Klon Mangga Komersial Indonesia

View Article
POTRET PERTANIAN - Mangga merupakan salah satu buah penting di Indonesia. Tanaman mangga dapat menyerbuk silang sehingga menyebabkan adanya varian-varian mangga dengan nama yang sama. Arumanis dan Gedong Gincu merupakan varietas mangga komersial Indonesia untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun internasional. Selain kedua varietas tersebut terdapat mangga Gadung sebagai mangga komersial yang berkarakter mirip dengan Arumanis, oleh karena itu para pakar mangga terdahulu menyatakan bahwa mangga Gadung-21 sinonim dengan mangga Arumanis-143 sehingga mangga Gadung-21 tidak bisa dilepas sebagai varietas unggul baru. Pohon induk varietas tersebut telah dikoleksi di Kebun Percobaan Cukurgondang dan dalam koleksi tersebut terdapat beberapa klon mangga Arumanis, Gedong, dan Gadung. Penelitian ini bertujuan mengetahui  keragaman genetik 11 klon mangga komersial Indonesia berdasarkan marka mikrosatelit. Bahan tanaman yang digunakan ialah 11 klon mangga yang meliputi lima klon mangga Arumanis, dua klon mangga Gadung, dan empat klon mangga Gedong yang berasal dari Kebun Percobaan Cukurgondang, Pasuruan, Jawa Timur. Penelitian dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian dari bulan Januari sampai bulan November 2014. Marka yang digunakan ialah 30 marka mikrosatelit. Analisis kesamaan menggunakan koefisien Dice, sedangkan pengelompokan mangga menggunakan metode UPGMA yang ada di dalam program NTSYS 2.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga pasang klon mangga dari 11 yang diuji, yakni Arumanis-143 dengan Arumanis-205, Gadung-21 dengan Arumanis-135, dan Gadung-185 dengan Arumanis-151. Ketiga pasang klon mangga tersebut memiliki tingkat kesamaan lebih dari 90%. Keragaman klon mangga Gedong sangat tinggi, terbukti dari variasi pola pita yang muncul dalam analisis DNA. Mangga Gadung-21 terbukti sinonim dengan mangga Arumanis-135 bukan dengan Arumanis -143.

Kata kunci: Mangga (Mangifera indica L.); Keragaman genetik; Marka mikrosatelit

Tahun : 2016Penulis : Tasliah1), Karsinah2), dan Joko Prasetiyono1
Selengkapnya silahkan klik tautan Download berikut.
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3263/2999